Berpadu Kritik dan Pesan Kebijaksanaan

Abdillah Marzuqi
14/8/2016 00:51
Berpadu Kritik dan Pesan Kebijaksanaan
(MI/Tiyok)

Budayawan Prof Dr Kuntowijoyo menyoroti keburukan stereotip dengan sindiran-sindiran yang disampaikan melalui dialog-dialog jenaka.

APAKAH seorang laki-laki tidak pantas mencintai bunga? Merawat bunga? Menyiram bunga?

Jika seorang laki diidentikkan dengan kerja keras, mungkin itu bukan soal. Akan tetapi, jika dipersepsikan pria harus kerja keras sebagai kerja kasar dan bunga dianggap sebagai simbol kelembutan mungkin itu yang disoal Kuntowijoyo.

"Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan, bolehlah. Tetapi, engkau laki-laki." Begitu sepengal dialog dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga karya Prof Dr Kuntowijoyo (1943-2005). Keapikan kata yang dirangkai membawa cerpen itu menjadi pemenang pertama Sayembara Cerpen Majalah Sastra pada 1968.

Judul cerpen itu juga menjadi judul buku kumpulan cerpen pendek karya seorang yang dikenal sebagai seorang budayawan, sastrawan, dan sejarawan dari Indonesia. Diterbitkan Noura Books, buku itu memiliki 270 halaman dan memuat 11 cerita pendek. Sebelumnya, buku itu pernah diterbitkan pada 1992 dengan judul yang sama.

Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga berkisah mengenai keakraban seorang anak lelaki dengan tetangga tuanya. Sang kakek yang telah menemukan makna kedamaian dan keindahan hidup dalam bunga-bunga yang dirawatnya setiap hari.

Cerita itu dapat dipandang sebagai kritik terhadap maskulinitas atau stereotip terhadap bagaimana seharusnya diri seorang laki-laki. Namun, di balik itu, ada anjuran untuk memenuhi ragam aspek kebutuhan seorang manusia dalam mencapai kebahagiaan--kedamaian emosi, keuletan bekerja, kekayaan spiritualitas.

"Malam hari aku pergi tidur dengan kenangan-kenangan di kepala. Kakek ketenangan jiwa-kebun bunga, Ayah kerja-bengkel, Ibu mengaji-masjid," (hlm 28).

Sederhana tapi menghanyutkan, begitulah kesemua cerpen karya Kuntowijoyo dalam buku tersebut. Permasalahan sehari-hari yang diangkat membuat jalan ceritanya terasa ringan, tapi sarat makna. Kuntowijoyo mengedepankan sisi spiritualisme yang mengorek moral si tokoh utama dalam kehidupan manusia yang dinamis.

'Saya melihat sedikitnya satu hal, ia sedang mengejek kegemaran membangun stereotip dan kemampuan luar biasa manusia dalam berprasangka buruk', begitu tulis Bernard Batubara dalam pengantarnya.

Misalnya, cerita pendek Anjing menghajar telak setiap orang yang gemar berprasangka buruk. Tokoh suami-istri dalam judul Anjing (hlm 29) mengoreksi diri mereka sendiri seiring dengan berjalannya cerita. Kejutan lain yang terasa agak sureal juga muncul di cerita Kuntowijoyo yang lain, misalnya Segenggam Tanah Kuburan (hlm 62), tentang seorang maling yang dikalahkan tembang.

Ejekan terhadap stereotip laki-laki dan perempuan gamblang tergambar dalam cerita Samurai (hlm 87), tentang seorang suami yang terganggu oleh sikap sang istri yang menurutnya terlihat sangat tidak perempuan.

"Pada penglihatanku, laki-laki itu mempunyai hak penuh atas atas istrinya. Istri haruslah penurut," (hlm 88).

Berpendapat demikian, sang suami pun kerap menunjukkan ketegasannya pada si istri. Itu dilakukannya semata demi membangun kewibawaan sebagai laki-laki dan suami dalam rumah tangga itu.

"Lelaki tak bisa kalah dengan perempuan. Aku harus membuktikan itu dengan kemampuanku. Harus. Perempuan membutuhkan perlindungan laki-laki, bukan sebaliknya. Perempuan apa pun dia tetap perempuan. Perempuan itu, mau tak mau, makhluk yang lemah," (hlm 99).

Sang suami lalu memajang samurai yang suatu waktu pernah dilumuri darah manusia. Namun, apa yang terjadi? Selalu berakhir dengan keterkejutannya akan sikap istri yang tidak pernah takut kepadanya. Itu bahkan membuatnya tampak bukan laki-laki dan merasa jadi tidak sangat laki-laki. Itu sangat mengganggunya.

Membuat tertawa

Cerita Samurai dijamin bakal membuat tertawa berkali-kali. Terlebih jika pembaca tahu di suatu tempat masih ada laki-laki yang memiliki pikiran serupa tokoh suami di cerita tersebut--yang menganggap bahwa perempuan seharusnya takut dan tunduk di hadapan laki-laki. Perempuan harus bergidik melihat hal-hal seram. Perempuan harus menjadi sosok lemah sehingga patut membutuhkan perlindungan dari laki-laki.

Cerita-cerita Kuntowijoyo lainnya, meski tidak selalu menyoroti keburukan stereotip, tetap penuh dengan sindiran-sindiran yang sering kali disampaikan dengan dialog-dialog yang jenaka. Misalnya Serikat Laki-Laki Tua (hlm 117) mengandung sindiran pada fasisme dan antikeberagaman. Sepotong Kayu untuk Tuhan (hlm 147) mengandung kritik terhadap cara beragama dan berketuhanan. Gerobak itu Berhenti di Muka Rumah (hlm 170) ialah ejekan terhadap prasangka buruk. Ikan-Ikan dalam Sendang (hlm 201) merupakan sindiran terhadap tindak tipu-tipu dalam usaha memonopoli rezeki. Mengail Ikan di Sungai (hlm 223), meski ditutup dengan kesedihan, juga sindiran terhadap akal sehat. Burung Kecil Bersarang di Pohon (hlm 241) dapat dibaca sebagai ejekan terhadap cara beragama dan beriman.

Seluruh cerita Kuntowijoyo dalam buku itu ditulis menggunakan gaya mengalir. Hal itu mempermudah penyampaian gagasan dalam setiap tema. Meski demikian, kejutan-kejutan kecil di akhir cerita tidak jarang pula membuat agak kecele. Itulah yang membuat pembacaan atas cerita-ceritanya menjadi lebih menyenangkan. Itu seperti dalam cerita Anjing.

"Dia ingin sekali mengunjungi kuburan itu. Sebab, itu sangat penting baginya. Itu menjadi saksi bahwa suaminya masih jejaka! Apa? Saya bertanya heran. Istri saya membisikkan: Anjing besar itu menjaga istri yang dulu supaya laki-laki itu tidak tidur bersamanya!" (hlm 61).

Terhimpun dalam buku tersebut, ada kisah penuh kebijaksanaan yang mampu memberikan pelajaran kehidupan tanpa menggurui. Itulah yang menjadikan kumpulan cerpen ini, menurut Aan Mansyur, sebagai salah satu kumpulan cerita pendek Indonesia yang harus dibaca setidaknya sekali seumur hidup. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya