Cerita Awal dari Novelis Besar

Abdillah M Marzuqi/M-2
14/8/2016 00:41
Cerita Awal dari Novelis Besar
()

BAGI pencinta novel klasik, nama Jane Austen (1775-1817) mungkin tidak asing lagi di telingga. Ia merupakan novelis besar Inggris pada era abad ke-18 sampai abad ke-19. Pada saat dia masih hidup, tidak sekali pun namanya dicantumkan pada novel yang ditulisnya. Semuanya hanya menyebut 'oleh seorang wanita'.

Ia dikenang melalui karyanya yang legendaris. Sense and Sensibility (1811) dan Pride and Prejudice (1813) merupakan dua dari beberapa judul tersohor karya Jane. Belakangan ini, karyanya yang berjudul Lady Susan yang pertama diterbitkan pada 1871 mulai diangkat ke layar lebar dengan judul Love & Friendship (2016).

Karya yang awalnya dibuat bukan untuk diterbitkan itu merupakan salah satu karya Jane yang berbentuk epistolary novel, yakni terdiri atas serangkaian dokumen berbentuk surat atau dokumen lainnya.

Cinta pertama, perjodohan, dan cinta tak berbalas ialah beberapa topik mengenai percintaan yang diangkat Jane Austen dalam novel Juvenilia. Namun, tak hanya itu. Intrik politik pun tak luput dari sorotan mata tajam sang penulis legendaris tersebut.

Juvenilia ialah kumpulan karya-karya Jane Austen berupa novel, cerpen, puisi, bahkan penggalan skenario drama yang ditulisnya ketika masih remaja sekitar 1787-1793.

Jane menulis novel pertamanya pada saat berumur 14 tahun. Novel tersebut ialah Love and Friendship dan The History of England. Keduanya termasuk dalam buku ini.

Dalam 456 halaman, buku terbitan Noura Books ini memuat 19 karya Jane Austen. Dituturkan dengan gaya bahasa yang lugas dan cerdas, buku ini merekam sudut pandang Jane Austen remaja dalam memandang arti cinta, persahabatan, dan keluarga. Tak mengherankan bila karya-karya ini menjadi jejak awal Jane sebagai penulis yang sukses melahirkan karya yang diapresiasi pembaca sepanjang masa. Melalui karya-karya itu terlihat kreativitas Jane dalam bercerita dan menciptakan tokoh.

Lewat Juvenilia, Jane pun mencurahkan kreativitas yang serupa. Dengan apik, Jane mengulas cerita bertema tak hanya soal cinta, tetapi juga keluarga, bahkan pandangan politiknya kala itu--hal yang luar biasa mengingat karya ini ditulis Jane kala usianya masih belasan tahun.

Tidak untuk dipublikasikan

Awalnya Jane menulis karya ini tidak untuk dipublikasikan, tapi semata untuk menghibur sanak keluarganya. Isinya pun beragam, ada cerpen, potongan adegan drama, surat-menyurat, dan puisi.

Melalui Juvenilia bisa terlihat karakter awal tulisan Jane. Misalnya, Jane kerap menciptakan tokoh utama seorang perempuan cerdas, berkemauan keras, dan berani mengambil sikap. Suatu lompatan yang besar bila mempertimbangkan norma dan stereotip yang berkembang tentang perempuan kalangan bangsawan di Inggris kala itu.

Juvenilia merupakan karya penting Jane Austen, penanda pertama pengasahan bakatnya sebagai penulis. Sedemikian pentingnya bahkan pada edisi asli yang berbahasa Inggris sangat dipertimbangkan keautentikannya. Kesalahan penulisan sekalipun tetap dibiarkan apa adanya.

Sementara itu, di edisi bahasa Indonesia ini, akan tampak bagian-bagian yang tidak rampung, juga plot yang unik, misalnya pada judul Sir William Mountague (hlm 73) dan Memoar Mr Clifford: Kisah yang tak Tuntas (79) yang ditulis Jane untuk adiknya, Charles John Austen. Begitu menurut pengantar yang ditulis Yuke Ratna P.

Mengingat rangkaian proses kreatif yang Jane lalui tersebut, karya ini sayang untuk dilewatkan. Terlebih bagi para pembaca setia karya Jane Austen yang berminat mengikuti jejaknya sebagai penulis. Namun, buku ini juga cocok untuk mereka yang sekadar ingin menikmati penuturan-penuturan cerdas khas Austen.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya