Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK pertama didirikan pada 6 Januari 1996 di belakang Pasaraya Department Store Manggarai, oleh pasangan suami istri Rusdy Rukmarata dan Aiko Senosoenoto, EKI Dance Company tak pernah terbayangkan bisa bertahan hingga saat ini.
Selama 20 tahun berjalan, pasangan itu telah banyak melakukan perubahan. Tempat yang dulunya sanggar tari kini menjadi tempat mengolah seni dan budaya dalam arti yang luas.
"Tempat ini tak cuma sebatas kelompok tari, tapi juga sebuah wadah yang secara profesional mengelola seni dalam arti luas, mulai pendidikan dan pementasan seni hingga set panggung macam tata lampu, tata suara, maupun properti," ujar Aiko.
Dance Company yang awalnya sebagai bentuk kepedulian terhadap anak bermasalah kini berkembang dan dikeola secara profesional di bawah EKI Production.
Sejumlah nama besar seniman dan budayawan nasional muncul dari EKI Production, seperti budayawan Sujiwo Tejo, dalang Nanang Hape, Rusdy Rukmarata, penari Takako Leen, dan selebritas Uli Herdinansyah ataupun Aida Nurmala.
Tujuan utama EKI Dance sebenarnya sederhana. Salah satu cita-cita kecil mereka ialah membawa seni tari Indonesia untuk dapat bersaing dengan seni dari dunia internasional.
Tentunya itu tidak semudah membalik telapak tangan.
Berbagai keterbatasan menjadi halangan dan tantangan bagi mereka.
"Tujuan awal jelas, yakni ingin masyarakat itu mengenal tari kita sendiri supaya juga bisa bersaing dengan Hollywood.
Namun, ya, itu, tari di Indonesia itu hanya dijadikan profesi sambilan saja.
Lantas bagaimana mau menjadi profesional kalau profesinya saja hanya sambilan?" ungkap Aiko.
Bak atlet
Untuk mencapai tujuan itu, sesuatu yang berbeda diterapkan di EKI Dance.
Menurut Rusdy, untuk menjadi penari di tempatnya harus memiliki mental yang kuat baik itu jasmani maupun rohani.
Apalagi durasi latihan mencapai enam hari dalam seminggu.
"Setiap hari itu latihan, hanya Senin saja libur. Ada tidak ada pertunjukan, tetap latihan dan latihannya juga tidak hanya latihan tari, tetapi juga latihan teknik," ungkap Rusdy.
Menjadi penari, lanjut Rusdy, seperti atlet yang membutuhkan kekuatan fisik dan stamina.
Untuk bisa menari selama 90 menit, dibutuhkan latihan teknik yang terdiri dari latihan fisik.
"Karena kalau tidak latihan fisik yang digabung teknik, penari tidak akan sanggup untuk bisa menari selama satu setengah jam," tutur Rusdy.
Lain dari sekolah tari umumnya, EKI Dance yang kini memiliki 30 penari utama juga memadukan konsep tari, musik, dan teater.
Semuanya bersatu padu membentuk sebuah pergelaran seni pertunjukan yang cukup menarik.
Selain itu, para penari EKI Dance menguji kemampuan mereka secara rutin, sebulan sekali.
"Karena pengujian seperti ini akan berpengaruh pada tingkatan penari. Jadi tentu mereka akan latihan dengan serius untuk nantinya bisa lolos ujian itu," tambah Rusdy.
Rusdy pun mengaku dan yakin profesi dan dunia tari di Indonesia khususnya Jakarta bisa berkembang dengan baik.
Salah satu faktornya ialah tingkat stres di Ibu Kota yang semakin tinggi sehingga membutuhkan hiburan yang inspiratif.
"Kalau saya pikir, dunia dan profesi tari di Jakarta ini sangat menjanjikan karena banyak orang yang stres dan pusing habis bekerja. Mereka mencari hiburan yang berbeda. Saya pikir hiburan tari seperti ini bisa masuk ke mereka itu," jelasnya.
Aiko pun pada akhirnya terus berupaya mengembangkan EKI Dance Company.
Bersama Rusdy, dirinya berharap dapat menjadikan wadah menari ini untuk bisa unjuk gigi di bidang seni demi melawan arus budaya luar negeri yang kian menjamur.
"Ya harapannya semoga anak-anak muda kita mau lebih mengenal budaya dan seni Indonesia, khususnya tari, sehingga mereka bisa memperkenalkan budaya kita ke negara luar juga," pungkas Aiko.
(M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved