Perangkap Nyamuk Berbau Manusia Bantu Perangi Malaria

Basuki Eka Purnama
11/8/2016 08:33
Perangkap Nyamuk Berbau Manusia Bantu Perangi Malaria
(AFP PHOTO / ANP / Robin van Lonkhuijsen)

ILMUWAN asal Belanda dan Kenya telah mendesain sebuah perangkap nyamuk unik yang menggunakan bau manusia untuk menarik serangga pembawa parasit malaria. Perangkap itu terbukti sukses menekan angka penyebaran penyakit itu.

Dalam penelitian selama tiga tahun di Kenya ditemukan bahwa perangkap khusus yang menggunakan bau sintetis itu sukses menangkap 70% populasi nyamuk lokal dan menyebabkan penurunan 30% kasus malaria di rumah yang menggunakan perangkap itu.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Lacet pada Rabu (10/8) disebutkan bahwa penelitian itu dilakukan di Pulau Rusinga, Kenya, dengan peserta seluruh dari 25 ribu warga pulau itu.

"Perangkap nyamuk berbau itu juga memberi solusi untuk penyakit seperti demam berdarah dengue dan virus Zika," ujar Universitas Wageningen, Belanda, yang memimpin penelitian itu, dalam sebuah keterangan resmi.

Baik demam berdarah dengue maupun Zika ditularkan oleh parasit yang dibawa oleh nyamuk yang berbeda dari yang membawa virus malaria namun semuanya tertarik dengan bau manusia.

Perangkap nyamuk itu juga mengurangi kebutuhan menggunakan pestisida untuk mengendalikan keberadaan nyamuk yang saat ini semakin kebal terhadap zat kimia semacam itu. Penggunaan pestisida juga berbahaya untuk pertanian.

"Mengalahkan malaria tanpa menggunakan insektisida adalah impian saya," ujar Willem Takken dari Universitas Wageningen.

Takken adalah pemimpin penelitian yang digelar bersama dengan Kenyan International Centre of Insect Physiology and Ecology dan the Swiss Tropical and Public Health Institute.

Perangkat bertenaga surya itu diberi aroma manusia dan diletakkan di dalam atau di luar ruangan.

Malaria disebabkan oleh parasit yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk.

Saat ini belum ada vaksin malaria dan sekitar 438 ribu orang meninggal dunia pada tahun lalu akibat malaria, menurut WHO. (AFP/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya