Menanti Dukungan Inovasi

Wibowo
10/8/2016 02:30
Menanti Dukungan Inovasi
(MI/WIDJAJADI)

MURAH harganya, mudah desainnya, dan bisa didaur ulang. Tiga keunggulan kapal pelat datar Triwitono karya dosen Teknik Perkapalan Universitas Indonesia Hadi Tresno Wibowo serta alumni itu sempat menyita perhatian publik lantaran bisa dipakai sebagai kapal ikan, kapal patroli, kapal pengangkut barang, dan moda transportasi. Seperti diakui Hadi, pihaknya sudah melakukan uji coba dengan membuat kapal pelat datar berukuran 9 meter sebagai sarana mengangkut orang dari Pulau Seribu ke Pulau Untung Jawa serta sebaliknya. Hasilnya pun memuaskan. "Kapalnya stabil, enak, tidak terlalu oleng (goyang)," ungkap Hadi kepada Media Indonesia melalui sambungan telepon, Jakarta, Senin (8/8). Kapal yang dibuat dengan melibatkan tiga nelayan itu juga dimanfaatkan untuk menangkap ikan. Berkaca dari itu, para nelayan pun meminati kapal pelat datar. Akan tetapi, mereka masih memiliki keterbatasan dari sisi biaya. "Harus ada program dari pemerintah," ucapnya.

Ia mengutarakan hingga kini pemerintah belum memberi dukungan terhadap keberadaan kapal pelat datar itu. Sejumlah kementerian yang didatangi menolak dengan sejumlah alasan. Misalnya saja, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menilai biaya kapal pelat datar berbahan baja itu lebih mahal jika dibandingkan dengan kapal fiber yang impor. Padahal, menurut Hadi, biaya kapal pelat datar murah. Ia menyampaikan biaya membuat kapal pelat datar berukuran 9 meter hanya sekitar Rp170 juta. "Katakanlah jika dikomersialkan dengan keuntungan, harga kapal sebesar Rp250 juta, itu masih lebih murah ketimbang tender KKP dengan ukuran kapal yang sama," urainya.

Selain dari sisi biaya yang lebih efisien, kapal pelat datar berbahan baja juga dapat mendorong industri baja nasional. Misalnya, BUMN yang bergerak pada industri baja seperti PT Krakatau Steel Tbk (persero). Untuk membuat kapal ini hanya membutuhkan lempengan-lempengan pelat baja datar. "Lantaran terbuat dari lempengan baja itulah, kapal pelat datar ini bisa didaur ulang ketika menjadi sampah karena diolah kembali menjadi lempengan-lempengan baja baru," jelas Hadi. Menurut Hadi, jika pemerintah mendukung pemanfaatan kapal pelat datar itu akan sangat membantu kebutuhan di tiap-tiap wilayah perairan. "Apalagi, kapal yang mendominasi pelayaran rakyat sekarang ini ialah kapal tradisional terbuat dari kayu yang kini makin langka," ujarnya.

Dia optimistis kapal pelat datar hasil riset perguruan tinggi itu bisa jadi solusi bagi nelayan sebagai bentuk kepedulian pada nasib nelayan tradisional. "Ujungnya bakal berdampak besar pada pergerakan ekonomi di Indonesia sebagai negara kepulauan," tutur dia. Di sisi lain, kapal pelat datar juga dapat bermanfaat untuk menyatukan pulau-pulau di Tanah Air. Saat ini transportasi di pulau-pulau di Indonesia masih minim. "Akses transportasi yang sulit sering kali membuat warga di kepulauan tidak dapat menjangkau berbagai komoditas. Maka itu, perlu solusi tepat dari pemerintah agar inovasi perguruan tinggi dirasakan masyarakat,'' pungkas Hadi.

Dipertemukan
Terkait dengan atas temuan tersebut, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir mengakui selama ini hasil inovasi Indonesia, termasuk kalangan perguruan tinggi sudah baik. "Hasil inovasi bangsa kita, termasuk hasil inovasi perguruan tinggi sangat baik, tapi kendalanya memang tidak dapat diindustrikan karena dinilai belum ada publikasi yang baik," ujar Nasir. Kendala lainnya ialah masih adanya kerangka berpikir para pemimpin di perguruan tinggi, yakni hanya business as usual atau ala kadarnya, apa adanya, dan seperti biasanya tanpa membuat terobosan-terobosan positif dan konstruktif.

Karena itu pula, saat ini Kemenristek Dikti membentuk satu direktorat jenderal yang mengurusi riset dan pengembangan serta satu direktorat jenderal penguatan inovasi. "Harapan kami ini yang bakal mendorong perguruan tinggi menghasilkan penelitian yang inovatif, bermanfaat bagi masyarakat, serta diproduksi massal," ungkap Nasir. Dirjen Kelembagaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono mengakui, sebelumnya memang tak ada program besar-besaran yang dilakukan pemerintah untuk meneruskan penelitian pada perguruan tinggi menjadi teknologi tingkat 9 (sudah siap dikomersialkan). Ke depan, pemerintah memberi pendanaan, tenaga ahli, dan pendampingan agar penelitian menjadi inovasi yang berdampak luas untuk masyarakat. "Melalui Ditjen Penguatan Inovasi nantinya pemerintah mempertemukan hasil penemuan atau penelitian dengan investor, industri, bank, serta supplier. Harapan kami, tentunya penemuan itu dapat diproduksi massal serta bermanfaat bagi masyarakat," tutup Patdono. (Bow/Bay/Mlt/S-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya