Penanganan Kaki Diabetik

Eni Kartinah
10/8/2016 01:00
Penanganan Kaki Diabetik
()

KAKI diabetik (diabetic foot) merupakan salah satu komplikasi penyakit diabetes melitus, yakni berupa luka yang sulit disembuhkan di area kaki. Timbulnya komplikasi itu terkait erat dengan rusaknya cabang-cabang saraf penderita diabetes. "Kadar gula darah yang tinggi terus-menerus dalam jangka lama menyebabkan kerusakan saraf. Kerusakan saraf itu terjadi pada saraf sensorik, motorik, dan otonom. Kesemuanya itu membuat penderita mudah mengalami luka dan sulit sembuh," ujar dokter spesialis saraf Albert Teddy pada seminar kedokteran bertajuk Metabolic Disorders and Their Complications: How to Handle? yang digelar RS Gading Pluit, Jakarta, Sabtu (6/8).

Ia menjelaskan saraf sensorik merupakan saraf yang menghantarkan rangsang ke otak. Ketika saraf tersebut rusak, sensibilitas kulit kaki menjadi berkurang. "Jadi, ketika pasien kena paku, kena puntung rokok, kena benda tajam lainnya tidak berasa. Jadi bisa timbul luka tanpa disadari," kata Albert. Adapun kerusakan saraf motorik (saraf pengatur gerak anggota tubuh) membuat sel-sel otot mengecil, termasuk otot di telapak kaki. Akibatnya, ketika pasien berdiri atau berjalan, distribusi tekanan pada telapak kaki tidak seimbang. Ada bagian-bagian yang mendapat tekanan berlebih. "Hal tersebut juga memudahkan pasien untuk cedera."

Terkait dengan saraf otonom, lanjut Albert, kerusakan pada saraf yang mengatur kerja organ dalam tubuh itu menyebabkan gangguan pada kerja kelenjar keringat. Dampaknya, kulit pada jari-jari kaki lebih kering dan mudah pecah-pecah. "Kombinasi dari kerusakan pada tiga jenis saraf itu membuat kaki mudah terluka." Kadar gula darah yang tinggi juga menyebabkan rusaknya pembuluh darah. Kondisi tersebut akan menghambat aliran darah ke area luka. Padahal, penyembuhan luka membutuhkan berbagai komponen nutrisi yang dipasok darah. Tak mengherankan jika saat luka terjadi, penyembuhannya sulit. Bahkan, dalam sejumlah kasus, luka yang terjadi semakin parah hingga kaki harus diamputasi untuk mencegah infeksi dari luka terus menyebar.

Karena itu, lanjut Albert, langkah pencegahan amat sangat penting. Pencegahan utama ialah dengan menjaga agar kadar gula darah selalu dalam kisaran normal. "Cek kadar gula darah secara rutin. Juga beri perhatian lebih pada kaki. Saat mandi, misalnya, cek apakah ada luka di kaki? Luka sekecil apa pun jangan diremehkan," pesan Albert. Hal senada juga diungkapkan dokter spesialis penyakit kulit Regina Kartika. Selain upaya tersebut, menurutnya, pasien diabetes melitus juga perlu menjaga kelembapan kaki dengan losion pelembap. "Ini penting karena gangguan saraf otonom yang mengatur kerja kelenjar keringat membuat kulit pasien diabetes cenderung kering sehingga mudah terluka. Idealnya gunakan losion yang memiliki daya pelembap tinggi. Biasanya teksturnya lebih kental daripada losin pelembap biasa, seperti salep," papar Regina pada kesempatan sama.

Ia juga mengingatkan agar pasien tidak memakai sepatu yang kekecilan karena hal itu bisa menimbulkan luka. Mengenai penanganan, dokter konsultan endokrin-metabolik-diabetes Benny Santosa menerangkan kaki diabetik memang perlu penanganan serius dan komprehensif, meliputi pengendalian kadar gula darah serta perawatan luka. Adapun amputasi, langkah itu menjadi pilihan terakhir. Umumnya dilakukan pada pasien-pasien dengan gula darah tidak terkontrol.
"Secara statistik, 2%-3% saja kasus kaki diabetik yang perlu diamputasi. Sebagian besar kasus bisa diatasi dengan perawatan luka konservatif. Di sejumlah rumah sakit, seperti RS Gading Pluit, ada layanan khusus perawatan kaki diabetik," imbuhnya.

Pada kesempatan sama, dokter spesialis bedah Peter Ian Limas menjelaskan penyembuhan kaki diabetik kadang memerlukan pembedahan pembuluh darah untuk memperbaiki sirkulasi darah ke area luka. "Jika kondisi pembuluh darah sekitar luka sangat buruk karena penumpukan plak, kadang perlu dilakukan by-pass, pembuatan jalur baru, agar pasokan darah ke area luka kembali lancar," katanya. Selain itu, sambungnya, perlu perawatan yang memberi lingkungan mendukung bagi luka. "Agar pertumbuhan jaringan baru pada luka dan sekitarnya berjalan baik sehingga luka cepat tertutup dan sembuh."

Gastropati diabetik
Komplikasi diabetes lainnya, gastropati diabetik, juga menjadi bahasan dalam seminar tersebut. Komplikasi tersebut kerap luput dari perhatian karena keliru dianggap sebagai mag biasa. Hal itu mengingat gejalanya yang mirip, yakni sering mual, kembung, dan begah. Menurut dokter konsultan gastroenterologi hepatologi Syafruddin, komplikasi itu timbul karena kerusakan kronis pada cabang-cabang saraf yang menjalari otot-otot lambung dan usus. Kerusakan saraf itu terjadi karena kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dalam jangka panjang, ditandai dengan nilai HbA1C di atas 8.

"Akibatnya, pergerakan lambung dan usus terganggu, terjadi perlambatan. Pasien umumnya datang dengan keluhan perut enek, mual, kembung, dan kadang ada rasa pahit di mulut," katanya. Penanganan gangguan itu, lanjut Syafruddin, meliputi pengobatan terapeutik, pengaturan pola makan, serta yang utama ialah pengendalian kadar gula darah. (H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya