PERNAHKAH Anda mengalami atau menjumpai luka di kaki yang tidak kunjung sembuh? Bisa jadi itu karena pembuluh darah arteri di tungkai yang menyempit atau tersumbat.
Sumbatan pembuluh arteri kaki menyebabkan ada bagian kaki yang tidak mendapat oksigen dan nutrisi yang disuplai darah. Sumbatan itu terjadi karena penumpukan plak, substansi yang terbentuk dari kolesterol dan komponen lain, pada dinding pembuluh darah. Gangguan itu kerap dialami penderita diabetes.
"Tapi yang bukan penderita diabetes juga bisa mengalaminya. Jika tidak ditangani, infeksi luka itu akan bertambah parah hingga kaki terpaksa diamputasi," ujar dokter spesialis bedah vaskular dan endovaskular Suhartono saat ditemui di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, pada diskusi kesehatan di RS tersebut, pekan lalu.
Selama ini, lanjutnya, pembuluh darah yang menyempit umumnya ditangani dengan pembalonan atau pemasangan stent (cincin/gorong-gorong khusus). Balon dan stent berfungsi menyangga agar pembuluh darah tidak menyempit kembali. Namun, balon dan stent memiliki beberapa kelemahan, mulai dari mencederai otot-otot di kaki sampai jangka bebas penyakit yang pendek, yaitu sekitar 3-12 bulan.
"Pemasangan stent pada kaki sebenarnya tidak tepat karena kaki kita terus bergerak. Kelemahannya, stent bisa mencederai otot-otot pada kaki, sedangkan kelemahan balon, angka kekambuhan sangat besar," jelas Suhartono.
Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan itu, saat ini ada alat yang bentuk dan fungsinya menyerupai bor. Alat bernama Turbohawk itu berfungsi mengikis dan membuang plak pada dinding pembuluh darah. "Alat yang diameternya 2,2 milimeter ini dapat masuk ke pembuluh darah dan bekerja tanpa meninggalkan luka lebar dan rasa sakit pascatindakan," imbuh Suhartono.
Ia menjelaskan, dalam praktiknya, alat itu dimasukkan ke area yang terjadi penyumbatan dengan bantuan kateter dan panduan alat pencitraan melalui pembuluh darah di lipat paha. Kemudian, plak di dinding pembuluh darah dikikis sampai darah bisa mengalir dengan lancar. Selanjutnya, area yang telah dikikis, diberi balon yang telah diolesi obat pencegah penyumbatan kembali," ujar dokter yang juga merupakan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta itu.
Alat ini bukan hanya bisa digunakan pada pembuluh darah yang menyempit, melainkan juga yang telah tersumbat seluruhnya. "Namun, pada pembuluh darah yang telah tertutup seluruhnya harus dibantu alat penunjang yang bentuknya menyerupai kawat. Setelah itu, bekas kikisan lemak yang telah terkikis akan dikeluarkan juga oleh alat ini," sambung dokter bedah vaskular dan endovaskular Alexander Jayadi Utama pada kesempatan sama. Jangka panjang Namun, tidak semua pasien penyumbatan pembuluh darah di kaki bisa ditangani dengan alat itu. Karena itu, sebelum penanganan pasien harus menjalani pemeriksaan awal lebih dulu, termasuk pemeriksaan CT scan untuk memetakan area terjadinya sumbatan.
Suhartono dan Alexander menilai alat tersebut memiliki banyak kelebihan. Antara lain, jangka bebas penyakit pascapenanganan yang panjang, yaitu 5-10 tahun.
"Kami tidak ingin pasien bolak-balik ke RS untuk berobat. Alat ini memang dirancang untuk kesehatan pasien jangka panjang. Diupayakan tidak akan terjadi penyumbatan lagi di kaki," kata Suhartono.
Namun, alat yang telah dua tahun diterapkan di banyak rumah sakit di Korea Selatan, Tiongkok, Hong Kong, India, Singapura, dan Jepang itu juga memiliki kekurangan. "Kekurangan alat ini, hanya bisa dipakai untuk penyumbatan di kaki. Ini sangat disayangkan," tambah Suhartono. Biaya penanganan dengan alat tersebut senilai dengan pembalonan dan pemasangan stent, yakni berkisar Rp30 juta-Rp50 juta.(*/H-3)