Menyulap Sampah Jadi Media Tanam

Dinny Mutiah
04/8/2015 00:00
Menyulap Sampah Jadi Media Tanam
(ANTARA/Fahrul Jayadiputra)
MEMBUANG sampah sembarangan bisa berpotensi mencemari lingkungan. Hal itulah yang kurang disadari sebagian warga. Direktur Komunikasi dan Advokasi World Wide Fund (WWF) Nyoman Iswarayoga mengungkapkan rata-rata produksi sampah rumah tangga paling tidak sekitar 1,5 kg setiap harinya. Menurut dia, yang menjadi bahaya ialah ketika sampah organik dan anorganik dibuang tanpa melalui proses pemisahan.

"Kalau sampah organik sudah tercampur dengan anorganik, itu akan jadi lama terurainya. Jika sampah-sampah itu tidak dimanfaatkan secara baik, akan berdampak negatif bagi lingkungan," ujarnya seusai mengajak wartawan berkebun bersama WWF di area Ecocamp, Bandung, Jawa Barat, kemarin (Senin, 3/8/2015).

Bukan hanya itu, lanjutnya, kalau sampah organik tidak diurai dengan baik, akan muncul gas metana yang berpotensi 21 kali lebih besar daripada CO2. Kondisi tersebut secara tidak langsung turut berkontribusi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim.

Padahal, kata Nyoman, sampah itu bisa disulap menjadi media tanam. Cara menjadikan sampah sebagai media tanam itu bisa mengurangi timbunan sampah yang dibuang ke TPA (tempat pembuangan akhir). "Selain itu juga mendukung penghijauan yang dimulai dari rumah sendiri," tuturnya.

Sementara itu, Erwin Budiyanto, volunter Ecocamp, menjelaskan media tanam dari sampah itu sejatinya sangat mudah dilakukan. Bahan-bahan yang digunakan pun sederhana, yakni sampah organik yang umumnya dihasilkan dari dalam rumah, dedaunan, tanah, dan air yang diberi biocompound, yakni jenis mikroba bioactive yang berfungsi mengurai sampah menjadi unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Menurut Erwin, biocompound bisa dibuat sendiri dengan mencampurkan kotoran hewan yang diencerkan bersama air tanpa melalui proses yang rumit.

"Jadi, media utamanya itu sampah. Bisa apa saja, kulit buah, sayuran, sisa minyak, bahkan oli bekas boleh dicampurkan. Fungsi biocompound itu hanya mengondisikan agar mikroorganisme tidak mati," ungkapnya.

Namun, kata Erwin, setiap dua minggu sekali, media tanam tersebut harus disiram biocompound. Tujuannya menjaga mikroorganisme agar tidak benar-benar hilang akibat disiram air setiap hari.(Mut/M-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya