Kebudayaan Jangan Diabaikan

Syarief Oebaidillah
05/8/2016 13:45
Kebudayaan Jangan Diabaikan
(Dok. MI)

PEMBANGUNAN seharusnya terintegrasi dengan kebudayaan. Banyak nilai dan produk kebudayaan yang bermanfaat untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Hilmar Farid dalam sosialisasi World Culture Forum (WCF) 2016 di Jakarta, kemarin.

"Selama ini jika berbicara mengenai pembangunan, yang dikedepankan selalu mengenai hal-hal teknis, seperti ekonomi, pertumbuhan, populasi, dan lainnya, sementara kebudayaan dikesampingkan. Padahal, pembangunan tersebut seharusnya terintegrasi dengan kebudayaan," ujar Hilmar.

Kebudayaan, lanjutnya, memegang peranan yang sangat besar dalam konsep pembangunan berkelanjutan. Hilmar memberi contoh sistem irigasi persawahan di Bali, yakni subak.

"Subak merupakan salah satu warisan budaya, bagaimana cara menata sumber daya air. Ini merupakan warisan budaya yang harus kita lestarikan," kata dia.

Untuk itu, dalam WCF 2016 nanti, pihaknya akan menggali nilai-nilai budaya Indonesia yang digunakan sebagai landasan berpijak untuk menjalankan pembangunan.

Hilmar menyebut ada banyak prinsip dasar kebudayaan yang sangat berguna dan perlu diangkat kembali serta dimasukkan pembangunan. "Di Indonesia banyak praktik budaya yang baik untuk melestarikan alam."

WCF merupakan agenda tiga tahunan yang akan diselenggarakan di Bali, pada 10-14 Oktober 2016. WCF 2016 akan diikuti 1.500 peserta yang berasal dari 40 negara.

"Beberapa pembicara kunci yang kami harapkan hadir, yakni Sekjen PBB Ban Ki-moon, Sekjen UNESCO Irina Bokova, serta Presiden RI ke-3 BJ Habibie."

Selain ketiga nama itu, sejumlah tokoh dan pejabat dari dalam dan luar negeri juga diagendakan menjadi pembicara kunci, yakni Raja Jordania Abdullah II bin Al-Hussein, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, dan mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Syafii Ma'arif. "Dari nama-nama di atas, yang sudah mengonfirmasi kehadiran baru Irina Bokova".

Menjadi jembatan
WCF merupakan perhelatan berskala internasional yang membahas isu-isu strategis serta merekomendasikan kebijakan pengembangan budaya untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Beberapa isu yang dibahas, yakni berkaitan dengan perdamaian, kemakmuran, pelestarian, dan pengembangan kualitas hidup tingkat tinggi bagi peradaban global.

WCF diharapkan dapat menjadi jembatan tiga komponen, yakni jembatan antara masa lalu dan masa depan, jembatan generasi kemarin dan masa depan, dan jembatan antara warisan kemarin dan landscape modern.

Tema utama pada WCF 2016, yakni Budaya bagi dunia yang inklusif berkelanjutan. WCF 2016 juga memberikan ruang untuk anak-anak muda melalui Youth Forum yang dimulai 12 hari sebelum forum dimulai.

Tujuan dari penyelenggaraan Youth Forum tersebut ialah memberikan kesempatan bagi kaum muda untuk dapat membicarakan berbagai hal penting mengenai kebudayaan. Youth Forum diikuti 200 pemuda yang berasal dari sejumlah negara sahabat. "Harapannya, melalui forum WCF ini dapat dirumuskan landasan kebudayaan," harap Hilmar.(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya