MOS, Saatnya Belajar soal Hak Anak

Miranda Olga Viola Jurusan Kriminologi Universitas Indonesia
02/8/2015 00:00
MOS, Saatnya Belajar soal Hak Anak
(DOK. MIRANDA)
SEKUMPULAN siswa baru SMA Negeri 90 Jakarta datang memenuhi aula sekolah. Rabu pagi, (28/7) itu, mereka tengah menjalani hari kedua masa orientasi siswa (MOS).

Para siswa yang masih berseragam SMP itu hendak mengikuti sosialisasi mengenai perdagangan anak alias child trafficking dari Rumah Faye.

Selama tiga hari MOS, sejumlah relawan Rumah Faye memang disebar di SMP, SMA, dan SMK Jakarta untuk melakukan sosialisasi.

"Ada yang tahu kategori 'anak' masuk di usia berapa saja?" tanya Ghivo Pratama,21, salah satu relawan Rumah Faye membuka sosialisasi.

Berbagai jawaban muncul dengan antusias. Setelah menjelaskan bahwa anak ialah mereka yang berusia di bawah 18 tahun dan termasuk yang masih di dalam kandungan, Ghivo menampilkan sebuah video.

Kisahnya, perjalanan seorang remaja terlibat dalam perdagangan manusia. Berbagai reaksi muncul, yakni tertawa, kasihan, geli, bahkan terkejut.

Berikutnya, Ghivo memaparkan hak-hak anak serta fakta-fakta mengenai perdagangan anak.

Mulai kenyataan bahwa 150 ribu anak di Indonesia diperdagangkan.

Itu data dari Koalisi Nasional Eksploitasi Seksual Komersial Anak.

Fakta lainnya, 40 ribu hingga 70 ribu remaja putri Indonesia menjadi korban sindikat perdagangan anak tiap tahun.

Ini fakta yang diungkap Komnas Perlindungan Anak.

Indonesia ialah negara ketiga penyumbang terbesar dalam perdagangan anak di Asia Tenggara.

Selain memaparkan fakta, sosialisasi interaktif itu diikuti penjelasan penyebab, akibat, dan cara mencegah perdagangan anak terjadi.

Sosialisasi dibuat terasa sedekat mungkin dengan ranah para remaja.

"Perdagangan anak dapat terjadi pada siapa pun, termasuk teman dan kalian sendiri. Karena itu, hindarilah hal-hal yang dapat membuat kalian terjerat dalam perdagangan anak. Termasuk perundungan, kenakalan, pornografi, dan tentunya narkoba," kata Ghivo.

Menikah dini
Salah satu peserta sosialisasi ini, Dania, 15, mengatakan cukup terkejut.

"Aku sering bertanya-tanya soal anak tetanggaku yang masih kecil tapi sudah dinikahkan. Apa itu wajar dan normal? Lewat sosialisasi ini, aku jadi belajar kalau pernikahan dini itu juga terkait perdagangan anak," ujar Dania.

Belakangan ini, media sosial pun turut ramai mengenai kisah pelajar yang diperdagangkan.

Dalam merespons hal itu, Dian Purnomo sebagai perwakilan Rumah Faye mengatakan,

"Setiap anak harus dianggap sebagai korban ketika ada kasus seperti ini. Anak tidak dalam posisi memilih sebagai prostitusi. Kalau sampai dia 'menjual diri' tanpa ada perantara, yang dianggap sebagai trafficker ialah orang yang 'membeli' anak tersebut. Pasal yang dikenakan padanya pun jadi dobel, perkosaan dan trafficker".

Agar kembali ceria
Sang pendiri, Faye Simanjuntak, 13, berinisiatif membuat rumah perlindungan Rumah Faye bersama ibunya.

"Rumah Faye berusaha mengembalikan keceriaan dan masa depan anak korban perdagangan lewat upaya pencegahan, intervensi, dan pemulihan. Harapannya, Rumah Faye dapat membentuk karakter anak korban perdagangan menjadi pribadi yang tangguh dan disiplin, mengasihi sesama, dan berguna bagi orang lain," kata Faye.

Usia Faye, saat belajar perbudakan modern dan perdagangan manusia, masih delapan tahun.

"Topik itu menyentuh hatiku, dan aku sadar bahwa aku tidak mau hal itu terjadi pada anak-anak perempuan tersebut. Ketika usiaku 11 tahun, aku dan ibuku memutuskan membuat Rumah Faye. Ini adalah mimpiku," jelas Faye.

Rumah Faye baru dibangun pada 2013.

Akan tetapi, sepak terjang Rumah Faye sudah tergolong hebat lo!

"Saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih, yang selalu mendampingi saya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak-anak yang hidup tanpa kasih sayang orang tuanya," ujar Faye.

Gencarkan kampanye
Selain telah berhasil menjalankan misinya untuk mencegah, mengintervensi, dan membantu pemulihan sejumlah anak-anak korban perdagangan, Rumah Faye juga turut serta dalam Asian African NGO Summit 2015 yang bertajuk #fightingpoverty.

Selain itu, Rumah Faye sudah menggalang beberapa kampanye antiperdagangan dan prostitusi anak, salah satunya yang tergabung dalam Campus Network pada 2013.

"Aku senang apabila mampu menggerakkan hati orang-orang yang mendengar Rumah Faye bicara soal perdagangan anak. Perubahan kecil seperti itu membuat aku gembira, terutama ketika audiens menyadari mereka dapat melakukan sesuatu untuk membantu para korban perdagangan anak. Meski sering kali kesulitan mengatur waktu, Rumah Faye telah tumbuh menjadi bagian yang sangat penting bagi aku," kata Faye.

Khusus buat para perempuan muda, Faye berpesan, untuk menyadari haknya.

"Jangan biarkan orang lain memanfaatkanmu atau membuatmu jatuh. Kamu yang terbaik, dan tidak ada orang lain yang dapat menggantikanmu," pesan Faye.

Yuk dukung aksi ini di rumahfaye.or.id! (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya