Mengenalkan Keberagaman Lewat Tari dan Lagu

Alfi Rahmat Faisal
02/8/2016 11:01
Mengenalkan Keberagaman Lewat Tari dan Lagu
(Dok. PSAI)

ALUNAN tabuhan gamelan, kendang, dan rebana membuka acara malam itu. Satu persatu para penari belia muncul dari sisi kiri dan kanan panggung membentuk formasi. Derap langkah kaki dan gerakan badan yang patah-patah mengikuti iringan musik di atas panggung. Musik berhenti, tarian pun berakhir lalu riuh tepuk tangan penonton memenuhi ruangan.

Tarian Janger dari Bali sukses menghipnotis para penonton sekaligus membuka rangkaian acara Konser Paduan Suara Anak Indonesia (PSIA)-Cordana Choir 2016 di Usmar Ismail Hall, Jakarta, Minggu (31/7).

Mengusung tema “Music is Everywhere”, konser ini disajikan untuk menunjukkan kekayaan ragam budaya Indonesia berikut keindahannya dalam sajian paduan suara dan tari.

Selama 2 jam para penonton disuguhkan rangkaian lagu-lagu rakyat dan tarian daerah dari Barat hingga Timur Nusantara, mulai dari Aceh, Batak, Bali, Toraja, Ambon hingga Papua.

Konser ini merupakan bagian dari serangkaian konser sepanjang 2016. Diawali dengan penampilan mereka pada Festival Paduan Suara Remaja Eropa ke-10 di Basel, Swiss, Mei lalu. Sampai saat ini. sudah lebih dari 13 konser dan festival mancanegara yang mereka ikuti.

Pementasan mereka selanjutnya adalah di World Vision International Children’s Choir Festival dan Busan Choir Festival pada Agustus dan Oktober Mendatang.

Mengenalkan Keberagaman
Aida Swenson Simanjuntak, pendiri sekaligus pengasuh PSIA-Cordana melihat pentingnya mengenalkan keberagaman kepada anak-anak sejak dini. Menurutnya, perbedaan bukan untuk dihindari.

“Anak-anak itu mayoritas Kristiani, tapi mereka belajar dengan ustad mengenai tajwid. Mereka tidak masalah apa itu sholawat nabi. Ada juga di situ yang muslim tapi mereka juga menyanyikan lagu-lagu gereja. Sekarang ini heboh dengan segala macam yang tidak perlu. Anak-anak ini mereka tidak merasa beda satu sama lain.” ujar perempuan berdarah batak ini.

Berasal dari latar belakang yang berbeda, anak-anak yang tergabung dalam PSIA-Cordana dipertemukan dalam satu irama musik.

Melalui musik, Aida ingin PSAI menjangkau dan memberi kesempatan pada anak-anak dari berbagai latar belakang suku, status sosial ekonomi, hingga agama untuk mencintai budaya Tanah Air.

Sejak didirikan pada tahun 1992, paduan suara ini selalu konsisten membawa misi budaya dan perdamaian

“Anak-anak ini terdiri dari suku Chinese, Batak, Jawa, Toraja, Ambon, hingga Sunda. Dengan berpartisipasi di berbagai konser di dalam dan luar negeri, mereka mendapat pengalaman dan wawasan untuk menjadi anggota masyarakat warga dunia yang cinta damai, memiliki wawasan luas juga mengenal dan mencintai budaya mereka sendiri. Sebuah kebanggaan melihat penonton standing ovation, apalagi ketika penampilan dari Aceh. Makanya kita tidak pernah berhenti membawa Aceh,” tambah Aida.

Seirama dengan Aida, Novia Sofian, sang pelatih juga berujar hal senada. Ia melihat pentingnya memupuk kerukunan dalam perbedaan kepada anak-anak sejak usia dini dan mengenalkan budaya lewat musik adalah medium yang tepat.

“Kita memupuk mereka saling menghargai itu sejak kecil. Jadi mereka kalau latihan paduan suara itu yang Kristiani belajar lagu-lagu Islam begitupun sebaliknya. Dari kecil sudah ditanamkan untuk menghargai,” ujar perempuan yang akrab disapa Novi ini.

Ia juga berharap agar anak-anak tetap memiliki rasa bangga dan mencintai budaya sendiri.

“Saya selalu berpesan agar jangan takut untuk mencintai budaya dan tradisi kalian sendiri. Dari sabang sampai Merauke itu tidak ada budaya yang sama. Kita kaya sekali akan budaya. Saya berharap bisa lebih bagus lagi di festival nanti, karena setiap pementasan di manapun yang ditunggu itu Indonesi,” harapnya.

Memadukan kualitas vokal dan tarian
Penonton tidak hanya dipukau dengan gerakan tarian, namun juga disuguhkan dengan vokal prima anak-anak berumur 4-12 tahun. Lagu-lagu arransement Alfred Simanjuntak, lagu tradisional Papua, Maluku, Ambon hingga lagu daerah Batak tidak henti-hentinya disambut tepuk tangan para penonton.

Penonton juga dihibur dengan paduan suara yang dibawakan anak-anak umur 4-5 tahun. Kekompakan dan tingkah menggemaskan mereka sesekali mengundang tawa sekaligus decak kagum penonton.

Pada penghujung acara, penampilan pamungkas Rampai Aceh yang terdiri dari Shalawat Nabi, Seudati dan Saman sempurna menutup acara pada malam itu dengan sambutan standing ovation dari para penonton. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya