Pujangga Jawa Semakin Langka

Agus Utantoro
02/8/2016 12:34
Pujangga Jawa Semakin Langka
(Sri Sultan Hamengku Buwono X -- ANTARA FOTO/Noveradika)

SRI Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, saat ini, keberadaan pujangga sebagai sumber kearifan lokal dalam membangun manusia Jawa sudah semakin langka. Menurut Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu, yang disebut pujangga, kini setara dengan intelektual.

“Sejatinya intelektual itu adalah istilah masa kini, yang di jaman silam disebut pujangga. Ia sebagai sumber kearifan lokal dalam membangun manusia Jawa. Sayangnya, kini sudah teramat langka intelektual yang mau kembali ke dasar menginovasi pitutur luhur dan wewarah agung untuk dikemas dalam berbagai media,” kata Sultan di Sleman, Senin (1/8).

Sri Sultan menambahkan dulu gagasan pemikiran pujangga tersebut ada yang tersaji dalam bentuk tembang atau nyanyian, tembung atau perkataan, tarian dan laku-laku budaya dalam kaitan filosofi hamemayu hayuning diri (memperindah keindahan diri) membangun diri disertai tekad dan budi untuk kemudian membanguina masyarakat-bangsa, Hamemayu Hayuning Bawana (mempercantik dunia yang cantik).

Dalam membangun jiwa, lanjutnya, manusia Jawa senantiasa diingatkan untuk sadar diri akan piweling atau pesan baik dan piwulang atau ajaran leluhur.

“Ketika makarya atau bekerja dipesankan untuk selalu sabar, karena sabar itu mustikaning iku mustikaning laku yang berarti sabar itu mahkota kehidupan, sabar merupakan inti penghayatan hidup. Selaras dengan semangat sabar kuncining swarga tegese marganing kamulyan atau jalan menuju kemuliaan,” kata Sri Sultan.

Lebih lanjut dijelaskan, kata yang mulia saat ini seringkali terinflasi dan terdegradasi oleh segelintir elite yang karena jabatan seharusnya melekat dalam dirinya sebutan 'Yang Mulia', janganlah menyurutkan langkah untuk menjadi manusia utama yang dimuliakan Allah.

“Tapi, sayangnya bukankah para Yang Mulia itu sudah banyak yang berurusan dengan KPK. Menang di tengah godaan hedonisme yang konsumeristik sekarang ini, menjadi Yang Mulia yang sejatinya mulia, itu tidak mudah,” katanya.

Ngarsa Dalem menambahkan, bagaimana para ahli hukum dan cendekiawan mencitakan hukum yang yang mendasarkan diri pada keadilan, kebenaran dan kearifan bagi Indonesia yang lebih baik.

“Kebenaran dapat bagaikan lilin. Tetapi apa makna lilin dalam kehidupan? kegunaannya baru nampak pada saat listrik padam. Lilin adalah cahaya, dan cahaya adalah bentuk materi. Kebalikannya adalah gelap, gelap bukan materi, ia tidak memiliki daya. Ia adalah keadaan hampa tanpa cahaya,” imbuhnya.

Ia mengatakan, sepanjang sejarah umat manusia mengalami kesesatan, ketika roda kebenaran berhenti bergerak.

“Gelap yang menyelimuti langit sebenarnya dapat diusir dengan mudah, bila kita menyalakan lilin dan berhenti mengutuk gelap, karena ia toh tidak berwujud dan tidak berdaya,” katanya.

Hal yang semestinya dilakukan, kata Sultan, adalah membangun jaringan elemen-elemen masyarakat yang punya idealisme guna menguatkan jaringan kelembagaan beserta fungsi dan perannya di tengah masyarakat-bangsa. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya