Kisah Dalang Cilik Tiga Bulan Langsung Mentas

Indah Purwati/M-1
02/8/2015 00:00
Kisah Dalang Cilik Tiga Bulan Langsung Mentas
(MI/GALIH PRADIPTA)
WAYANG, gamelan, kisah Mahabharata, dan Ramayana mungkin terdengar asing bagi sebagian anak Indonesia.

Namun, tidak demikian buat Rengga Mega Atmaja, 7, siswa kelas 1 SD Putik Cilangkap serta belasan anak-anak yang setiap hari berlatih menjadi dalang di Sanggar Redi Waluyo milik Ibu Sri Rahayu Setiawati, 36, dan Ki Sri Kuncoro yang juga seorang dalang dan pengajar di Jalan Kerja Bakti, Kelurahan Makasar, Jakarta Timur.

Di sanggar yang sudah berdiri sejak 1986 itu, anak-anak menjadi peserta kelas mendalang, seperti murid dari kalangan dewasa yang rutin berlatih di sana.

Jika murid berusia 17-30 tahun berlatih setiap Senin hingga Rabu, anak-anak calon dalang itu berlatih setiap Sabtu dan Minggu pagi.

Medi menemui Rengga, anak pertama Bapak Mego Wahono dan Ibu Sudaryati, saat sedang berlatih.

Hebatnya, Rengga mengaku mendalami dunia wayang karena keinginan sendiri karena sejak kecil ayahnya sering mengajaknya menonton.

"Wayang itu unik, belajar mendalang itu menyenangkan!" seru Rengga yang mengikuti kelas mendalang sejak umur 4 tahun.

Berlatih di rumah

Rengga kemudian bercerita, ia juga sempat ikut kursus mendalang di Kelas Istana Anak-anak di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Namun, karena terlalu ramai, akhirnya ayahnya mengajak Rengga belajar privat di Sanggar Redi Waluyo.

Karena melihat minat Rengga yang besar, sang ayah kemudian membelikan gunungan dan kelir agar Rengga bisa berlatih dan bermain dengan wayang kulit di rumah.

Oh ya, Sobat Medi, kelir ialah layar berwarna putih berbentuk empat persegi panjang yang digunakan sebagai latar belakang memainkan wayang.

Sementara itu, gunungan ialah wayang yang berbentuk gambar gunung beserta isinya.

Di sana, tergambar pintu gerbang yang dijaga dua raksasa yang memegang pedang dan perisai, perlambang pintu gerbang istana.

Saat pentas wayang, gunungan dipergunakan sebagai istana.

Di sebelah atas gunung, terdapat pohon kayu yang dibelit ular naga.

Pentas 17 Agustus
Setelah tiga bulan belajar, Rengga pentas di luar, salah satunya di Kantor Wali Kota Depok.

Pada Agustus ini, ia akan manggung di Kkawasan Sunter, Jakarta Utara, untuk acara 17 Agustus.

"Saat pertama kali pentas, aku memang gugup, tapi senang banget karena bisa dikenal orang, ditonton orang banyak. Aku biasanya mendalang selama satu jam, tidak seperti dalang dewasa yang bisa semalam suntuk," kata Rengga.

Proses belajar Rengga yang cepat itu disebabkan wayang dapat menjadi obat baginya saat jenuh.

Jadi, di rumah ia sering berlatih sendiri.

Saat ditanya tentang tokoh idolanya, Rengga mengaku ingin mengikuti jejak Ki Sri Kuncoro, sang pemilik sanggar sekaligus gurunya.

Selain itu, ia juga menyukai permainan dalang-dalang kenamaan seperti Ki Mantep, Ki Ntus, dan para seniornya yang lain.

Rengga memang pendiam.

Namun, ketika sang guru menyuruhnya siap-siap mendalang, ia langsung bersemangat.

Ia langsung mengambil tokoh wayang yang akan dimainkan.

Dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan sang guru, Rengga tampak sangat riang layaknya anak-anak yang tengah bermain.

Belajar kebaikan

"Mengajar mendalang itu harus sabar. Tapi Rengga sangat cepat menangkap materi yang saya ajarkan. Terkadang, dia kalau sudah capek ya mainnya dengan wayangnya juga. Capeknya itu cuma sebentar, habis itu lanjut lagi main wayang," tutur Ki Sri Kuncoro, sang guru yang juga berprofesi sebagai polisi.

Dengan mempelajari wayang, lanjut Ki Sri Kuncoro, kita dapat memahami banyak sekali nilai-nilai, mulai moral, filsafat, hingga berbagai ajaran yang baik.

"Jika Rengga mempelajari wayang diajar guru, saya autodidak. Caranya, ikut ke mana pun tetangga yang menjadi dalang. Pertama kali pentas rasanya deg-degan dilihat banyak orang," kata Ki Sri Kuncoro yang menyukai kisah pewayangan humor, seperti aksi para punakawan alias pengikut para raja, di antaranya Petruk.

Ki Sri Kuncoro pernah pentas di Afrika pada 2001, pada acara pertukaran budaya.

"Kalau dalang dewasa, ya mendalang semalam suntuk. Jadi, selain harus siap dengan teknik mendalang, fisik juga harus kuat," kata Ki Sri Kuncoro yang juga pernah mendapatkan penghargaan Juara 5 di kompetisi mendalang di Museum Wayang. Yuk, cintai kesenian Indonesia!



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya