MUHAMMADIYAH dan NU adalah sekawan. Pendirinya juga sekawan. Menilik sejarah, Mbah Hasyim Asy'ari (pendiri NU) dan Mbah Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) pernah berada dalam bimbingan satu guru, Mbah Sholeh Darat, di Semarang.
Mbah Dahlan dan Mbah Hasyim sama-sama ahli hadis dan fikih (hukum Islam). Mereka pernah berada di bawah satu guru. Keduanya juga sama-sama menimba ilmu di Arab Saudi. Pun memperjuangkan kemerdekaan dengan melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Hanya metode dan cara berjuang mereka yang berbeda.
Perbedaan itu bersifat niscaya. Tidak bisa dicegah sebab lahan garap dan lingkungan tempat mereka berjuang juga berbeda. Mbah Dahlan bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan di Kota Yogyakarta, sedangkan Mbah Hasyim memilih pendidikan pesantren karena berasal dari desa dengan kultur perdesaan, Jombang.
Bagaimana jika dahulu mereka bertukar tempat, Mbah Hasyim di Yogyakarta dan Mbah Dahlan di Jombang? Apakah kondisinya akan tetap sama? Tentu ada juga perbedaan.
Itulah sebabnya, diakui atau tidak, NU dan Muhammadiyah memang berbeda. Yang paling mendasar terkait dengan tata-cara ibadah, misalnya doa kunut, talqin mayit, Yasinan, atau tahlilan. Atau kalau mau lebih, keduanya berbeda semangat; NU dengan tradisinya, Muhammadiyah lewat pembaruannya.
Sekali lagi, perbedaan itu bersifat niscaya. Tak ada satu pun yang sama persis. Perbedaan itulah yang sering disimpangartikan sebagai pertentangan--dicitrakan sebagai perpecahan.
Fanatisme kelewatan baik dari warga Muhammadiyah maupun NU telah mengakibatkan kegagalan dalam menggelola perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat. Perbedaan bukan dimaksudkan sebagai pembedaan.
Tentu butuh waktu lama untuk menyadarkan mereka yang terjebak dalam kefanatikan. Jika tetap seperti itu, mustahil kita akan naik kelas. Paling banter hanya rebutan pengikut.
Akan lebih bijak kiranya menempatkan perbedaan itu layaknya beda selera makanan ataupun selera pakaian. Degustibus non est disputandum, soal selera tidak bisa diperdebatkan. Begitu kata pepatah kuno.
Lagi pula NU dan Muhammadiyah memiliki persamaan penting. Mereka sama-sama mengacu pada tujuan kemaslahatan umat atau kesejahteraan rakyat.
Cukuplah NU dan Muhammadiyah disikapi sebagai budaya. Sudah sepatutnya membiarkan keduanya menjalankan fungi masing-masing, sesuai dengan cita-cita pendirian.
Tak perlu menyeret keduanya dalam ranah yang sama sekali mempunyai perbedaan aturan main. Sungguh tidak elok menyeret keduanya dalam ranah yang berseberangan dengan jati diri sebagai pengayom umat.
Biarlah mereka menjadi bidan atas lahirnya agamawan, ilmuwan, budayawan, dan negarawan. Biarkan keduanya berperan layaknya pengasuh bagi pemimpin besar bangsa ini. (Litbang MI/T-1)