MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyayangkan masa orientasi siswa (MOS) disalahgunakan dengan perpeloncoan dan mempermalukan siswa baru. Perpeloncoan dilakukan dengan berbagai aturan berdalih 'disiplin' yang diberlakukan para senior. Menurut Anies, MOS bertujuan mengenalkan aktivitas di sekolah kepada siswa baru agar lebih siap mengikuti proses belajar mengajar.
"Kenyataannya orientasi punya kecenderungan masa-lah yang lain. Tindakan tradisi mempermalukan adik kelas atau siswa baru telah berlangsung tiap tahun. Bila dilakukan terus-menerus, negara ini isinya hanya orang-orang yang bergantian melakukan abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan," ujarnya saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) masa orientasi peserta didik baru (MOPDB) di SMA Negeri 2 Tangerang, Banten, kemarin.
Anies menjelaskan dinas pendidikan dan para kepala sekolah telah diberitahukan soal Peraturan Menteri Nomor 55/2014 serta Surat Edaran Nomor 59389/MPK/PD/Tahun 2015 tentang Pencegahan Praktik Perpeloncoan, Pelecehan, dan Kekerasan pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah, sepekan sebelum masa orientasi.
Dalam surat tersebut tercantum agar kepala dinas pendidikan mengantisipasi dan memastikan bahwa dalam pelaksanaan MOS tidak ada praktik yang menjurus pada perpeloncoan, peleceh-an, dan kekerasan terhadap siswa baru. "Ini jelas menjadi tanggung jawab sekolah, wali kelas, guru, dan kepala sekolah. Mengapa para panitia MOPDB sampai tidak tahu peraturan tersebut? Bagaimana mungkin Anda melaksanakan MOPDB tanpa menginformasikan terlebih dahulu aturan permen dan surat edaran menteri?"
Karena itu, ia meminta sis-wa melaporkan bila masih terjadi perpeloncoan. Bila itu terbukti, ia akan merekomendasikan dinas pendidikan untuk mencopot jabatan kepala sekolah dan memberikan sanksi kepada para guru. "Sanksi panitia, biarkan pihak sekolah yang menentukan hukumannya."
Seperti badut Praktik perpeloncoan siswa baru pada hari ketiga tahun ajaran baru masih terjadi di beberapa sekolah. Berbagai atribut yang mengarah pada perpelonco-an terlihat di tiga sekolah di Kota Tangerang, antara lain di SMAN 2, SMKN 4, dan SMK Yuppentek 1. Rata-rata siswa baru ditugaskan oleh kakak kelas untuk memakai atribut mulai pita di rambut, helm dari bola plastik, hingga topi loso/caping.
Siswa pun didandani seperti badut dengan mengenakan kaus kaki berbeda warna, sepatu bertali rafia, serta tas yang terbuat dari karung. Salah satu siswa baru SMA Negeri 2 Tangerang mengaku dia dan teman-temannya disyaratkan membawa berbagai hal yang cukup memberatkan. "Kami disuruh membawa kardus bekas 3 kilogram, membawa buku dengan sampul dipisah. Setiap hari membawa buah pisang, pada hari Sabtu membawa pisang ukuran 5 cm, Senin 10 cm, Selasa 13 cm, dan Rabu 15 cm." Selain itu, ia juga harus membawa bekal tempe, tahu, dan telur, dengan waktu makan yang dihitung. "Bila tidak habis, nasi dituangkan ke kepala siswa," ujarnya.