PAGI itu, ada 20 meja panjang diletakkan berjejer di Ruang Prambanan Hall Hotel Puri Asri Magelang, Jawa Tengah, Selasa (28/7). Tiap meja dikelilingi 10 sampai 11 orang.
Di atas meja itu, tergeletak sepaket bahan spica teleskop yang diletakkan di hadapan setiap orang. Tiap paket spica teleskop terdiri atas pipa yang terbuat dari bahan karton, lem, kunci pas, dan dua lensa yang terdiri atas lensa cembung dan lensa datar. Untuk apakah barang itu?
"Bahan-bahan tersebut didatangkan dari Jepang, khusus untuk membuat spica atau teleskop kecil. Kami menyediakan bahan pelengkap seperti isolasi dan botol air mineral sebagai alat penyangga teleskop karena kami ingin peserta berkreasi merakit teleskop. Salah satunya dengan barang bekas seperti botol air mineral," terang Ketua Asisten Juri Olimpiade Internasional Astronomi dan Astrofisika (IOAA) 2015 Miftahul Hilmi, kemarin.
Dalam ajang tersebut, sebanyak 210 peserta dari 41 negara ikut serta merakit teleskop. Beberapa peserta terlihat mengalami kesulitan membedakan mana bagian lensa cembung dan mana bagian lensa datar karena lensa cembung yang tersedia amat tipis.
Oleh karena itu, panitia menempatkan dua asisten di setiap meja peserta yang akan menjelaskan teknik pembuatan teleskop dan perantara bagi peserta yang mengalami kesulitan berbahasa.
Jiaxuan Li, salah seorang peserta dari Tiongkok, merupakan peserta yang paling cepat merakit teleskop. Ia menyelesaikan perakitan spica teleskop dalam waktu 10 menit. "Saya tidak mengalami kesulitan sama sekali. Ini mudah sekali. Saya merupakan yang tercepat menyelesaikan perakitan teleskop ini," ujar Jiaxuan Li.
Bagi sejumlah peserta, perakitan teleskop merupakan barang baru. Kendati demikian, bagi Brian Yaputra, 17, peserta dari Indonesia, itu bukan hal yang sulit. Ia mampu menyelesaikan perakitan teleskop dalam waktu sekitar 18 menit.
"Saya merasa surprise (terkejut). Ini baru pertama kali. Saya hanya pernah sekali melihat teknik perakitan teleskop mini. Sekali menerima penjelasan, tapi langsung bisa merakitnya. Instruksinya juga sudah sangat jelas," ujar pelajar asal Medan itu.
Banyak keunggulan Teleskop mini itu, menurut Brian, punya banyak keunggulan. Bentuknya yang kecil dan simpel memudahkannya untuk dibawa ke mana-mana. Melalui spica teleskop tersebut juga, kata Brian, dirinya bisa melihat kawah di permukaan Bulan dengan sangat jelas.
Untuk persiapan observasi, Brian mengungkapkan, dirinya bersama peserta lain sudah dibekali pelatihan observasi, teori, dan analisis data selama Pelatnas, satu bulan sebelum pelaksanaan IOAA.
Pelatnas dilakukan dua minggu di Bandung dan dua minggu di Magelang. Di Bandung, dua kali dalam sepekan tiap pukul 17.00, para peserta diajak pergi ke Observatorium Bosscha untuk melakukan pengamatan. Mulai pukul 19.00 sampai pukul 05.00, mereka melakukan pengamatan. "Ini bukan hal yang sulit karena sudah terbiasa di pelatnas. Saya optimistis bisa dapat medali, minimal perak," ujar Brian.
Sementara itu, Luke Qi, peserta asal Amerika Serikat, mengaku dirinya sangat berhati-hati dalam menyusun dan merakit teleskop, mengingat pekerjaan itu baru pertama kali ia lakukan. Karenanya ia membutuhkan waktu lebih lama, yakni sekitar 1 jam.
Meski perakitan teleskop tersebut tidak termasuk dalam penilaian, panitia berharap kegiatan itu dapat melatih peserta dalam mengembangkan daya kreativitas dan imajinasi peserta dengan bahan yang ada.
Selanjutnya, hasil rakitan peserta nantinya akan digunakan untuk melakukan observasi atau pengamatan pada langit dari atas Candi Borobudur pada Selasa malam. "Dalam kegiatan observasi itu barulah dilakukan penilaian. Dengan spica teleskop, kami ingin mengamati langit pada saat yang sama, dengan kondisi yang sama, secara bersama-sama. Jadi ini lebih adil dan seragam sehingga panitia tidak akan mendapat komplain. Yang jelas merakit teleskop bagi pelajar SMA itu gampang," sebut Miftahul. (S-25)