Mendeteksi Bibit Stroke

Eni Kartinah
29/7/2015 00:00
Mendeteksi Bibit Stroke
()
DI antara berbagai penyakit, serangan stroke mungkin termasuk yang paling ditakuti.

Di masyarakat, penyakit tersebut identik dengan kematian dan kecacatan.

Data Riset Kesehatan Dasar 2013 yang disusun Kementerian Kesehatan pun menunjukkan stroke merupakan penyebab kematian nomor satu di Indonesia, menggantikan posisi serangan jantung koroner.

Adapun secara global, stroke menjadi penyebab utama kematian nomor tiga di dunia setelah penyakit jantung dan kanker.

Serangan stroke umumnya terkesan mendadak.

Namun demikian, perjalanan penyakit tersebut sejatinya panjang.

Kelainan-kelainan pada pembuluh darah otak yang jadi pemicu serangan stroke tidak muncul tiba-tiba. Kelainan itu berkembang seiring berjalannya waktu.

Makin lama makin parah hingga suatu saat muncul sebagai serangan stroke.

Kelainan-kelainan pembuluh darah otak yang menjadi bibit stroke itu bisa dideteksi sebelum serangan stroke datang.

Teknologi kedokteran memungkinkan untuk mengintip kondisi pembuluh darah di otak.

Salah satu teknologi itu ialah pemeriksaan magnetic resonance angiography (MRA).

"Melalui pemeriksaan MRA, faktor risiko stroke dapat diketahui secara dini karena MRA dapat mendeteksi aterosklerosis (penyempitan atau pengerasan pembuluh darah) sebagai salah satu penyebab stroke dan kelainan pembuluh darah, seperti aneurisma atau AVM (arteriovenous malformation)," jelas dokter spesialis radiologi Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI)-Puri Indah, Jakarta, Andi Darwis, pada diskusi kesehatan di Jakarta, awal Juli lalu.

Konsultan radiologi intervensi itu menjelaskan, MRA merupakan salah satu fitur pencitraan dari alat magnetic resonance imaging (MRI) 3T Skyra yang dapat memberi gambaran struktur pembuluh darah arteri dan vena pada otak secara akurat.

"Dengan kualitas ini, MRA dapat membantu dokter mengevaluasi fungsi dan struktur pembuluh darah sebelum pasien mengalami keluhan."

MRA, lanjut Andi, memberikan sejumlah keuntungan.

Pertama, teknik tersebut bersifat noninvasif alias tidak melibatkan pembedahan atau sayatan. Kedua, pemeriksaan itu tidak menggunakan sinar-X sehingga lebih aman untuk pasien tertentu, misalnya ibu hamil.

"Ketiga, prosedurnya cepat, tidak memerlukan penyuntikan bahan kontras ke tubuh sehingga bisa menjadi solusi untuk mereka yang alergi terhadap zat kontras," imbuh Andi.

Dengan kelebihan-kelebihan itu, kata Andi, selain untuk mendeteksi kelainan-kelainan penyebab stroke, MRA juga sangat berguna untuk penanganan stroke secara cepat pada masa emas atau golden period, yakni masa-masa awal serangan stroke yang masih memungkinkan pasien untuk pulih dan terhindar dari kecacatan atau kematian.

"MRA menjadi suatu pilihan untuk menegakkan diagnosis dan pengobatan stroke karena MRA menghasilkan citra pembuluh darah otak secara lebih rinci yang kadang tidak terlihat oleh tes diagnosis lain."

Pada kesempatan sama, dokter spesialis saraf RSPI-Pondok Indah, Rubiana

Nurhayati, menjelaskan pemeriksaan MRA dianjurkan untuk mereka yang tergolong berisiko dan mereka yang memiliki gejala awal stroke.

"Seperti mereka yang sering sakit kepala berdenyut-denyut yang timbul berulang-ulang di tempat yang sama, merasakan makin lama makin sakit," katanya.

Enam jam

Terkait dengan tanda serangan stroke, Rubiana menjelaskan bentuknya berbeda-beda tergantung di bagian pembuluh darah mana yang terkena serta seberapa besar penyumbatan aliran pembuluh darah atau perdarahan yang terjadi.

Sebagai contoh, bila penyumbatan terjadi di area berbicara, serangan stroke seketika dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak bisa bicara atau pelo, tak dapat mengatur kata-katanya.

Gejala lain bisa berupa lumpuh mendadak, vertigo, tak bisa melihat, dan mengalami mati rasa.

"Sering pingsan atau kehilangan kesadaran juga patut diwaspadai sebagai gejala dari stroke iskemik."

Bentuk gejala yang berbeda-beda itu kadang menyulitkan seseorang untuk mengenali serangan stroke.

Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap gejala itu bisa membuat penderita terlambat ditangani hingga berujung pada kecacatan atau kematian.

"Stroke memerlukan tindakan darurat medis pada golden period yang terbatas kurang dari enam jam setelah terjadinya gejala awal stroke. Penanganan segera diperlukan untuk mencegah terjadinya kerusakan otak lebih parah yang bisa mengakibatkan kecacatan menetap dan kematian," papar Rubiana.

Sebagai upaya antisipasi, lanjutnya, deteksi dini kelainan-kelainan pemicu stroke menjadi langkah tepat.

"Dengan deteksi dini, langkah pengobatan bisa diambil lebih cepat dan cermat. Stroke pun bisa diantisipasi," pungkasnya. (*/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya