PENYAKIT demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan penting di dunia. Tercatat, dalam 50 tahun terakhir, jumlah kasus orang terinfeksi DBD meningkat hingga 30 kali.
"Rata-rata per tahun 390 juta orang terinfeksi DBD di seluruh dunia," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Tjandra Yoga Aditama, di Jakarta, kemarin (Senin, 27/7/2015).
Selain itu, sambung dia, setiap tahun sekitar setengah juta orang di dunia mengalami DBD berat. Terkadang kasus itu diikuti dengan syok dan perdarahan yang akhirnya bermuara pada kematian.
Dengan berkaca pada fakta-fakta tersebut, DBD masih menjadi topik bahasan penting dalam Technical Advisory Group Asia Pacific Strategy on Emerging Infectious Diseases (TAG APSED) pada 21-23 Juli lalu di Manila, Filipina, dengan Tjandra bertindak sebagai salah satu pemimpin pertemuan itu.
Dia menambahkan saat ini sekitar 40% penduduk dunia berisiko terkena infeksi DBD. Risiko yang ditanggung penduduk di kawasan Asia, menurut Tjandra, lebih besar daripada mereka yang tinggal di negara maju.
"Di Asia, biaya total untuk terapi pemulihan penyakit ini mencapai US$2 miliar per tahun. Pengeluaran itu di luar upaya pencegahan," tambah dia.
Sejumlah negara maju di Asia juga masih dihantui penyakit menular tersebut. Tjandra mencontohkan, di Singapura, masih ditemukan empat jenis virus dengue yang masih bersirkulasi.
Bahkan banyak pakar menilai DBD di negara tersebut sebagai hiperendemi atau tingkat kejadiannya tinggi, terus-menerus, dan di atas prevalensi normal. Karena itu, DBD masih dianggap sebagai masalah kesehatan penting di sana.
Sementara itu, di Jepang, DBD tidak disebarkan nyamuk Aedes aegypti seperti di Indonesia, tetapi oleh nyamuk Aedes albopictus. Menurut Tjandra, di 'Negeri Sakura', nyamuk Aedes albopictus lebih populer dengan sebutan tiger mosquito.
3M paling efektif Lebih jauh Tjandra mengatakan hasil kesimpulan TAG APSED merekomendasikan bahwa pencegahan utama wabah DBD yang paling efektif ialah dengan menjalankan program 3M (menguras, menutup, dan mengubur).
"Penelitian vaksin DBD juga terus didorong. Namun, saat ini vaksin itu baru dapat memberikan perlindungan 60%," sebut Tjandra.
Senada dengan Tjandra, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes M Subuh mengatakan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan metode 3M masih menjadi cara yang paling efektif dalam mencegah DBD.
Subuh mencontohkan, di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kejadian luar biasa (KLB) DBD tidak terjadi, padahal hampir seluruh kabupaten di Jawa Timur mengalami KLB DBD pada awal tahun ini. "Di Mojokerto tidak terjadi karena PSN kerap dilakukan secara rutin di sana," kata Subuh.(H-3)