Menangani Trauma dengan Artoplasti

Melati Yuniasari Fauziyah
22/7/2016 09:29
Menangani Trauma dengan Artoplasti
()

CEDERA yang diakibatkan oleh suatu kekerasan fisik dapat menimbulkan trauma pada pasien. Trauma itu umumnya ditimbulkan akibat kecelakaan maupun kondisi setelah pasien terjatuh hingga menyebabkan gangguan fungsi pada sendi. Di dalam sendi, terdapat struktur-struktur yang dibentuk oleh dua buah tulang untuk pergerakan dari suatu alat gerak manusia.

Selain terdiri dari tulang-tulang sendi, terdapat pula otot-otot yang ada di sekitar tulang lutut, ligamen, dan pengikat sendi.

Trauma yang terjadi pada sendi tersebut mengakibatkan gangguan atau pun kerusakan pada struktur-struktur tulang sendi. Pada kekerasan yang mengenai sendi pada lutut saat terjatuh misalnya, kekerasan besar tersebut dapat mengenai tulang hingga mengalami patah tulang.

Dokter Spesialis Orthopedi RS Mitra Keluarga Depok Hardjanto Effendi mengatakan bahwa dampak yang diakibatkan tergantung dari jenis trauma dan bagian dari sendi yang mengalami benturan.

Karena itu, cedera pada lutut, misalnya, pengobatan yang dapat dilakukan adalah anterior C L (ACL) yang berfungsi untuk mengembalikan kestabilan pada gerakan-gerakan sehari-hari.

"Apabila putus total, fungsi lutut akan mengalami gangguan terutama pasien merasakan nyeri pada pergerakan tertentu," terangnya saat ditemui di RS Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat, Kamis (21/7).

Namun, pada pasien usia lanjut, imbuhnya, penanganan umumnya dilakukan dengan artoplasti atau operasi penggantian sendi.

Berbeda halnya dengan penggantian ligamen, artoplasti berfungsi mengendalikan sendi dimana sendi tersebut diganti atau dengan dilakukan pemasangan alat-alat orthopedi.

Artoplasti kerap dilakukan pada pasien usia lanjut dimana mereka seringkali mengalami keropos tulang. Akan tetapi, pada orang tua dimana aliran darah sudah sangat berkurang, dikhawatirkan penyembuhan tulang tidak dapat berjalan dengan baik. Karena itu, salah satu alternatif dapat dilakukan dengan melakukan pergantian sendi.

"Pada orang tua, tulang yang patah biasanya di bagian tulang panggul bagian paha ujung. Diganti dengan alat bantu prostesis," tambahnya.

Risiko dan penangan artiplasti, lanjutnya, dikhawatirkan menimbulkan infeksi yang disebabkan oleh tumbuhnya kuman di tempat operasi.

Infeksi itu dapat berkembang pada tulang maupun jaringan sekitar tulang sehingga mengakibatkan terjadinya kegagalan dari prostesis yang dipasang. Apabila terjadi, harus dilakukan pembersihan kembali atau pun dengan pemberian antibiotik.

Meski begitu, penanganan artoplasti bertujuan untuk menghilangkan nyeri yang dirasakan cukup lama pada pasien hingga pasien harus berbaring dalam waktu yang cukup lama. Hal itu tentunya dapat mengakibatkan komplikasi-komplikasi yang mengacam jiwa, seperti halnya pengumpulan cairan di paru-paru hingga menyebabkan infeksi cukup berat.

"Tindakan artoplasti disarankan untuk menghilangkan nyeri sehingga pasien dapat mobilisasi dengan cepat tanpa rasa nyeri," pungkasnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya