PEMERHATI anak-anak Seto Mulyadi menilai tayangan televisi selama Ramadan tahun ini masih banyak yang menyimpang.
Tayangan tersebut kebanyakan hanya acara 'seru-seruan' tanpa ada unsur pendidikan.
"Harus diakui masih banyak tayangan yang menyimpang dan harus dievaluasi," kata laki-laki yang akrab disapa Kak Seto itu di Jakarta, kemarin.
Kak Seto mengemukakan penilaian tersebut berdasarkan pengamatannya terhadap tayangan di televisi nasional, terutama pada waktu menjelang berbuka dan sahur selama Ramadan lalu.
"(Tayangan) masih seputar 'seru-seruan' yang menonjolkan tawa terbahak-bahak, berbicara dengan keras, dan memancing emosi," kata psikolog anak itu.
Padahal, Kak Seto melanjutkan, bulan puasa merupakan saat yang tepat untuk mengajari anak-anak tentang hal-hal baik termasuk etika berbicara dan memperlakukan orang lain.
Terlebih lagi saat-saat menjelang buka dan sahur secara umum merupakan waktu utama bagi keluarga dan anak-anak berkumpul untuk menonton televisi di bulan puasa.
Meski demikian, Kak Seto mengapreasiasi kerja Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam melaksanakan tugas sebagai pengawas acara-acara televisi nasional.
"Tidak mudah memonitor sekian banyak acara di sekian banyak stasiun televisi nasional. KPI sudah melakukan dengan maksimal, termasuk memanggil pihak yang melanggar," kata dia.
Ke depannya, Kak Seto berharap stasiun televisi nasional dapat menayangkan acara-acara yang memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak, terutama pada saat Ramadan.
Kak Seto sendiri telah menyiapkan beberapa program tayangan yang sesuai bagi anak-anak, termasuk reproduksi serial Si Komo yang pernah populer pada tahun 90-an.
"Sudah siap, hanya tinggal menunggu stasiun TV yang berminat," kata dia.