Dari Iwan Fals sampai Celurit

(TS/M-3)
21/7/2016 00:40
Dari Iwan Fals sampai Celurit
(DOK RUSDY RUKMARATA)

BICARA genre untuk karya Rusdy Rukmarata bukanlah soal mudah. Itu karena karya-karyanya begitu dinamis dan beragam. Rusdy mengakui dirinya memang tidak membatasi genre dalam berkarya. Sekali waktu ia bisa memproduksi tarian dengan karakter etnik, modern, jazz, kabaret, hingga lyrical dance. Mulanya, ciri khas tarian karya Rusdy yang dibawakan EKI Dance lebih kental bernuansa kontemporer dramatik, dengan unsur menghibur yang lebih kecil. Dalam perjalanannya, karena tuntutan dan perkembangan zaman, Rusdy lebih banyak menuangkan unsur menghibur dalam karya-karya tarinya. Hal ini sesuai visi yang dibawanya, yakni 'Art from the heart', yakni mengenai pentingnya kejujuran. Serta 'Art for the people', yakni pentingnya publik memahami persoalan yang disajikan dalam tariannya. Tema yang diusungnya pun sangat beragam, mulai dari kasus aborsi, penyalahgunaan obat, penyimpangan seksual, dan rasa kesepian. "Jika di awal, koreografi yang saya ciptakan hanyalah ekspresi dari kejujuran saja. Namun sekarang, saya melihat pentingnya mengomunikasikan karya dengan penonton, bahwa suatu karya juga harus bisa berkomunikasi dengan masyarakat luas," tutur Rusdy.

Soal inspirasi, Rusdy mengaku menggali dari berbagai hal, baik film, kehidupan nyata, karya sastra, maupun musik. Umpamanya, karya tari Bala Turangga yang terinspirasi dari tarian kuda lumping dan dipadukan dengan balet. Dari situ, Rusdy menciptakan tarian kuda dengan gaya eropa tetapi tetap memuat unsur sensual dan dinamis. Kemudian, ada tari Celurit yang terinspirasi dari bentuk celurit yang seram dan dipadukan dengan tarian kipas. Bahkan, pernah juga Rusdy terinspirasi dari lagu-lagu karya Iwan Fals. Dengan kemampuannya menggali inspirasi yang luas, tidak mengherankan Rusdy dikenal sebagai koreografer yang amat produktif. Ia mengaku paling lama hanya membutuhkan waktu satu pekan untuk menciptakan tarian pendek. Namun, untuk proses kreasi musikal dengan tariannya bisa memakan waktu enam bulan. Bagi orang-orang yang hanya mengenal Rusdy di masa kecil, sepak terjangnya di dunia tari ini mungkin sangat mengherankan. Pasalnya, hingga di bangku SMP, Rusdy belumlah bersinggungan dengan dunia tari.

Perkenalannya baru dimulai di bangku SMA. Itu pun karena kebetulan dan terjadi demi berpartisipasi di acara kesenian yang diadakan sekolahnya, SMA Theresia. Namun, dengan karakter tekun dan disiplin yang ada pada dirinya, Rusdy kemudian mampu mengasah bakatnya dengan sangat baik. Rusdy juga mengaku banyak belajar dari profesi lain untuk mempertahankan proses kreatif dan produktivitas. Salah satunya, ia mencontoh cara kerja editor surat kabar yang bekerja sesuai tuntutan deadline. Cara kerja ini berbeda dari kebiasaan banyak seniman yang cenderung manja menunggu mood untuk bisa berkarya. "Jadi sekarang, dalam berkreasi, saya cenderung membuat dulu tanpa menunggu mood. Setelah itu baru dikoreksi lagi sehingga proses kreatifnya berjalan dan tidak mengganggu time line," ujar Rusdy. Hanya, dalam menjalani profesi Pandhita Agama Buddha sekaligus sebagai koreografer, diakui membuatnya agak sulit membagi waktu. Kondisi ini membuat Rusdy menyadari pentingnya regenerasi. Beruntung saat ini EKI sudah bisa menelurkan koreografer muda. Regenerasi ini pula yang melahirkan warna-warna segar pada dunia tari Indonesia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya