Rusdy Rukmarata Tari yang Membangun Kehidupan

Tosiani
21/7/2016 00:30
Rusdy Rukmarata Tari yang Membangun Kehidupan
(DOK RUSDY RUKMARATA)

PRIA berkacamata itu tampak begitu semringah menonton atraksi tari para pemuda Majelis Nichiren Shoshu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI) di kawasan Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Sosok pria tersebut memang tidak asing dengan dunia tari maupun komunitas Buddha. Dialah Rusdy Rukmarata, salah satu koreografer besar Indonesia. Menggeluti tari sejak era 1980-an, karya-karya Rusdy sudah dipentaskan di berbagai belahan dunia, seperti Belanda, Prancis, Spanyol, Inggris, Jepang, Singapura, dan Malaysia. Tidak sedikit dari pementasan itu yang dilakukan dalam event besar yang diikuti ratusan negara. Salah satunya ialah pementasan di Spanyol yang berlangsung dalam event pembangunan berkelanjutan. Lewat tariannya pula pendiri Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company tersebut menyebarkan semangat positif bagi anak muda.
Ini pula terlihat dalam kehadirannya di tengah pentas MNSBDI pertengahan Juni itu. "Dengan menari, lalu menjadi seniman, anak-anak muda akan bisa membangun kehidupan. Mereka menjadi lebih bisa menata hidup, berpikir, dan melakukan hal positif untuk kehidupannya," tutur Rusdy kepada Media Indonesia.

Ketekunannya mendekatkan tari pada generasi muda, dikatakan Rusdy, timbul pada era 1990-an, tepatnya setelah pulang dari menempuh beasiswa pendidikan tari di London Contemporary Dance School, Inggris. Saat itu Rusdy menemukan banyaknya kasus aborsi di kalangan anak muda Tanah Air, termasuk anak muda Buddhis. Di matanya, perilaku buruk itu terjadi karena anak muda tidak memiliki cara yang baik untuk menyalurkan ekspresi dan dorongan fisik. Pelarangan ataupun nasihat-nasihat diyakininya tidak dapat menjadi solusi karena justru dapat membuat anak muda memberontak. Pria kelahiran Jakarta, 6 Agustus 1962 ini, memilih merangkul anak muda lewat seni yang ia pahami, yakni tari. "Salah satunya dengan menari, agar bisa melakukan gerak badan dan ekspresi badan. Namun, susahnya adalah untuk bisa menari dengan baik perlu disiplin. Jika tidak disiplin, maka akan mudah tergoda melakukan kebiasaan lama, seperti kecanduan narkoba dan seks bebas. Ini menjadi susah diatasi," ujar Rusdy yang juga seorang Pandhita Utama Agama Buddha dari MNSBDI.

Kendati demikian, Rusdy juga memberi pengertian pada anak didiknya bahwa profesi penari tidaklah menjanjikan layaknya di Amerika dan Eropa. Di benua itu, penari dapat bekerja hingga delapan jam per hari. pendapatan mereka pun bisa makin besar jika bergabung dalam tur-tur. Di sisi lain, antusiasme anak muda untuk bergabung di EKI Dance Company nyatanya tetap besar. Saat ini, EKI Dance Company yang didirikannya bersama sang Istri, Herwindra Aiko Senosoenoto, pada 1996, memiliki penari dari berbagai daerah, antara lain Makassar, Bali, Medan, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tiga puluh penari EKI Dance Company juga merupakan potret keberagaman Indonesia. Selain generasi muda agama Buddha, ada pula penari-penari beragama Islam.

"Di EKI, kami sudah membuktikan, ada anak-anak muda yang semula memiliki masa lalu kelam, setelah memutuskan jadi penari profesional, berlatih keras dengan disiplin tinggi, sekarang sudah bisa membangun kehidupannya," jelas Rusdy. Ayah empat anak ini juga percaya masa depan profesi penari di Indonesia akan semakin cerah. Ini bisa dilihat dari apresiasi publik yang berani mengeluarkan uang lebih demi tari yang berkualitas. EKI Dance Company hingga kini memang menjadi salah satu lembaga tari yang produktif. Beberapa pementasan mereka yang sukses besar dan dikenal sampai sekarang ialah Madame Dasima dan Jakarta Love Riot.

Jakarta jadi pusat kesenian dunia
Sebagai seorang koreografer, Rusdy memendam mimpi besar untuk kota kelahirannya. Ia ingin Jakarta menjadi layaknya broadway di Asia Tenggara. "Orang Indonesia sangat berbakat dalam tari, akting, dan kesenian lainnya. Kalau kita kerja keras, akan banyak dance dan musical mendunia. Jadi, kita perlu membangun environment, industri, venue, dan seniman di berbagai bidang. Ini harus diwujudkan. Jika tidak, maka venue hanya diisi seniman luar negeri," ujarnya. Demi mimpi itu pula, Rusdy aktif menggelar pertunjukan musikal tentang etnik-etnik di Indonesia. Ia juga mendorong koreografer muda berkreasi dalam pertunjukannya bertajuk EKI Update yang digelar tiga kali dalam setahun. Pertunjukan teranyar EKI Update digelar 12-13 Mei 2016. Sementara, pertunjukan berikutnya akan digelar pada 26-28 Agustus 2016 yang juga berlangsung di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

"Melalui pertunjukan ini, kami juga ingin berkolaborasi dengan berbagai bidang seni lainnya, termasuk juga dengan menggunakan teknologi," tambahnya. Tidak hanya produktif menelurkan pementasan, Rusdy juga mengerahkan tenaga di keorganisasian. Saat ini, ia menjabat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Dengan menjadi anggota DKJ, Rusdy berharap bisa memberikan sumbangsih lebih besar lagi bagi dunia kesenian. Ia menjadi punya kesempatan untuk menata tempat-tempat kesenian serta membangkitkan komunikasi antara berbagai komunitas seni di Jakarta. Dengan cara-cara ini, ia yakin kesenian Indonesia akan maju bersama. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya