Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA era Orde Baru, media Islam selalu menempati posisi di pinggiran. Namun pascaOrde Baru, media Islam mulai memasuki area tengah.
"Di Era Orde Baru, media Islam berada di posisi peripheral atau pinggiran. Sedangkan mainstream media ditempati media yang memiliki koneksi dengan kelompok non-Islam," kata Direktur Pemberitaan Harian Umum Media Indonesia, Usman Kansong, Rabu (21/7).
Di depan mahasiswa Flinders University yang mengikuti program pengenalan dengan dunia Islam, Understanding Islam in Indonesia itu, Usman Kansong mengungkapkan pasca-Orde Baru banyak yang berpendapat bahwa saatnya untuk membangun media Islam dengan memperhitungkan peluang jumlah pemeluk Islam di Indonesia yang diharapkan akan menjadi pelanggan atau pembaca.
"Bahkan Islamist berpikir bahwa media Islam dapat memainkan peran penting dan menjadi alternatif sumber informasi media-media yang ada," jelasnya.
Dalam perkembangannya, lanjutnya, ada dua kategori media yakni media Islam dan mainstream media. Sedangkan media Islam sendiri, ujar Usman, dapat dibagi menjadi tiga kelompok yakni pluralis, fundamentalis, dan mistik.
Media pluralis, tambah Usman, adalah media yang membangun pluralis serta Islam moderat. Diantara media-media Islam yang membawa angin pluralis ini antara lain Syir'ah (majalah) dan Madina online. Sedangkan media fundamentalis antara lain Sabili, Ummi, serta Voice of Al-Islam. Sementara yang masuk dalam media mistis antara lain majalah Hidayah dan Ghoib.
"Mengapa yang mistis dan irrasional itu diterbitkan? Jawabnya, pada 1999 dan setelahnya, usai krisis ekonomi, banyak masyarakat yang membaca media-media mistis sebagai upaya untuk melupakan berbagai kesulitan yang mereka hadapi dan bahkan berharap akan mendapat jawaban
untuk perbaikan," jelasnya.
Lebih jauh, Usman mengatakan Sabili dilaporkan mampu menjual 140 ribu eksemplar dan meraih pembaca hingga satu juta orang pada periode 2002-2004. Ummi, pada 2002 meraih 80 ribu pembaca.
Sedangkan media mistis Hidayah pada 2008 menurut data Medis Planning Guide mendapatkan 531.000 pembaca, Hikayah pada 2004 oleh AC Nielsen memiliki 40.000 pembaca. Sementara Syir'ah hanya memiliki 10.000 eksemplar pada 2005.
Dr Priyambudi Sulistiyanto, pendamping mahasiswa dari Flinders University mengatakan para mahasiswa Flinders University ini mempelajari berbagai aspek kehidupan masyarakat terutama dalam kaitannya dengan Islam di Indonesia, khususnya di Yogyakarta.
Melalui pembelajaran secara langsung ini, mereka nantinya akan lebih memahami Islam yang senyatanya yang rahmatan lil alamin. "Mereka adalah calon-calon pemimpin dimasa depan. Pemahaman ini akan lebih bermakna untuk meningkatkan kualitas hubungan Indonesia - Australia dimasa depan," kata Priyamudi yang juga Direktur Akademik Jembatan, sebuah
institusi dilingkungan Flinders University. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved