Pembangunan Energi Indonesia Mesti Kurangi Polusi Udara

Gabriela Jessica Restiana Sihite
19/7/2016 14:00
Pembangunan Energi Indonesia Mesti Kurangi Polusi Udara
(ANTARA/JESSICA HELENA WUYSANG)

PEMBANGUNAN di sektor energi mesti dilakukan dengan memerhatikan permasalahan polusi udara. Pasalnya, tidak jarang penggunaan energi berdampak pada peningkatan polusi udara. Contohnya, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan bermotor.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Barol mengatakan Indonesia merupakan negara dengan populasi yang besar. Dengan populasi yang besar, kata dia, artinya pasar dan produsen energi juga besar.

Dia juga menekankan reformasi energi yang bisa mengurangi polusi udara bisa dilakukan dengan tiga langkah, yakni pemotongan subsidi energi, efisiensi energi, dan mendorong pembangunan energi baru dan terbarukan (EBT).

"Tiga hal itu, saya rasa, sudah mulai dilakukan Indonesia dan tidak hanya menjadi hal yang baik di sini, tetapi juga global," ucap Fatih dalam World Energy Outlook 2016 di Jakarta, Selasa (19/7).

Menurut dia, sebanyak 6,5 juta penduduk dunia meninggal karena polusi udara per tahunnya. Mayoritas dari jumlah tersebut berada di Asia dan Afrika.

Indonesia sendiri, menurut catatannya, mencapai sekitar 200 ribu jiwa yang meninggal per tahun. Karena itu, IEA meminta negara-negara anggotanya untuk melakukan reformasi di sektor energi supaya dampak tersebut bisa diminimalisir.

Di kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mengatakan pihaknya bakal mengurangi porsi energi fosil dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Rencananya, pada 2025, porsi energi batu bara bakal dipangkas menjadi maksimal 50%.

"Peggunaan batu bara kita mau dorong semakin dikurangi untuk pembangkit listrik, maksimal 50% dan akan diganti oleh gas dan EBT. Khususnya di Jawa kita akan batasi pembangkit listrik dari batu bara," tukasnya.

Dia pun menilai investor energi mesti mengupayakan pengurangan polusi udara dalam membangun teknologinya di Indonesia.

Menurutnya, meski pengusaha bakal menimbang pengembalian investasi, keberlanjutan teknologi pasti juga akan diperhatikan pengusaha.

"Mungkin investor akan merespon kalau rencana ini akan menambah beban, tetapi harus tetap dilakukan. Pelaku bisnis juga pada akhirnya akan melihat keberanjutan, tidak hanya return," tegas Sudirman. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya