Secercah Harapan untuk Penderita Alzheimer

BBC/Newscientist/Zuq/L-2
25/7/2015 00:00
Secercah Harapan untuk Penderita Alzheimer
()
ALZHEIMER merupakan gangguan otak atau demensia (pikun) yang menahun dan penderita tidak dapat kembali seperti semula lagi.

Penyakit itu ditandai dengan penurunan daya ingat dan kemampuan mental secara bertahap.

Kematian sel otak yang tidak berhenti pada penderita alzheimer menjadikan penyakit itu begitu ditakuti.

Selama ini belum ada pengobatan yang tepat dan tidak ada obat yang diharapkan dapat mengatasi penyakit ini.

Penyakit alzheimer menjadi penyebab utama demensia yang tidak dapat disembuhkan.

Pengobatan yang selama ini dilakukan, aricept, misalnya, hanya membantu fungsi sel otak yang mati pada sindrom demensia (penurunan kemampuan mental).

Namun, kabar menyejukkan datang dari Asosiasi Alzheimer AS yang pekan ini sedang mengadakan konferensi internasional.

Sejumlah peneliti dalam konferensi tersebut merilis penemuan obat alzheimer.

Saat diumumkan, pekan ini di Washington, penemuan obat alzheimer menyedot perhatian khalayak.

Dari sejumlah penemuan obat yang diungkapkan, ada satu obat yang mendapat simpati. Solanezumab nama obat itu.

Solanezumab boleh jadi menjanjikan harapan baru bagi pengobatan alzheimer.

Data dari perusahaan farmasi Eli Lilly menunjukkan Solanezumab mampu memangkas rata-rata proses demensia hingga sepertiga.

Solanezumab mampu membuat sel otak tetap hidup dan berfungsi.

"Untuk pertama kalinya, komunitas medis dapat mengatakan bahwa kita dapat memperlambat alzheimer. Ini merupakan langkah yang luar biasa maju," kata Dr Eric Karran, direktur penelitian Alzheimer Research UK.

Sejak lama, Solanezumab digadang-gadang menjadi jawaban atas demensia.

Pada 2012, proyek Solanezumab hampir berakhir setelah uji coba selama 18 bulan.

Para peneliti tidak menyerah begitu saja.

Mereka mendapati Solanezumab mampu bekerja pada pasien tahap awal penyakit alzheimer dengan memperlambat perkembangan demensia sekitar 34% selama masa penelitian.

Mendapati data seperti itu, peneliti selanjutnya melibatkan lebih dari 1.000 pasien alzheimer ringan untuk menjalani pengobatan selama dua tahun.

Hasilnya positif, pemakaian jangka panjang obat Solanezumab memiliki banyak keuntungan.

"Ini bukti lain bahwa Solanezumab tidak memiliki efek pada patologi penyakit yang mendasari," kata Dr Eric Siemers, peneliti Lilly Research Laboratories, di Indiana.

"Kami pikir Solanezumab dapat menjadi obat modifikasi pertama yang beredar di pasaran," tambah Siemers.

Ada beberapa catatan tentang obat itu.

Pertama, obat tersebut membutuhkan masa reaksi yang lumayan lama.

Tak kurang dari 24 bulan pemakaian obat itu baru bisa memperlambat kerusakan otak dan memori penderita alzheimer.

Kedua, belum diketahui secara pasti efek penghentian konsumsi obat saat terapi masih berlangsung.

Terakhir, masih belum jelas akibat yang ditimbulkan Solanezumab bagi penderita alzheimer sampai masa uji coba berakhir tahun depan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya