Perlu Skema Khusus untuk Setiap Hutan

RO
17/7/2016 13:20
Perlu Skema Khusus untuk Setiap Hutan
()

SETIAP hutan di Indonesia memiliki spesifikasi tertentu. Sehingga dibutuhkan skema spesifik yang disesuaikan untuk masing-masing daerah. Tak heran saat ini kementerian lingkungan hidup (KLH) tengah meneliti 26 daerah untuk menentukan skema yang tepat.

“Karena tiap daerah memiliki spesifikasi sendiri dan pendekatan penanganannya pun akan berbeda, untuk itu kita perlu melihat langsung kondisinya dan mendengarkan masukan-masukan dari masyarakat setempat”, ungkap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam kunjungan ke dua kelompok tani hutan (KTH) di Lampung, Sabtu (16/7).

Lebih lanjut siti menyampaikan, “Bagaimana hutan dapat mensejahterakan masyarakat yang ada di dalam dan di sekitarnya, sedapat mungkin masyarakat tersebut tidak terusir, mereka diperbolehkan untuk memanfaatkan hutan tapi tidak memiliki,” ucap Siti.

Dalam kunjungan kerja sehari ini, Siti Nurbaya didampingi Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) San Afri Awang, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Hadi Daryanto, beberapa pejabat eselon II Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) KLHK di wilayah Lampung. Turut hadir Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung sekaligus menjabat Plt. Sekretaris Daerah Prov. Lampung, Sutono, Kepala Bappeda serta pejabat lainnya.

KTH pertama yang dikunjungi adalah Kelompok Tani Wana Karya di Desa Bogorejo Kecamatan Gedung Tataan Kab. Pesawaran. Kedua, Kelompok Tani Hutan Agro Forest Park di Desa Karang Rejo Kecamatan Jati Agung Kab. Lampung Selatan.

Kelompok Tani Wana Karya yang diketuai Manto mengelola seluas 350 ha, telah menanam 412.500 tanaman karet yang berada pada blok pemanfaatan areal Taman Hutan Raya. Menurut Manto pola pengelolaan hutan berbasis masyarakat dinilai berhasil di daerah ini.

“Buktinya swadaya masyarakat tahun 2014 sudah tidak ada lagi kebakaran hutan di daerah ini, dengan kombinasi tanaman, karet, kopi, talas, dan lada masyarakat mempunyai penghasilan rata-rata Rp 3 juta per bulan.”

Sementara KTH Agro Forestry Park Karang Rejo yang diketuai Kamidi melakukan pengembangan usaha hutan untuk pangan dan energi melalui pola kemitraan dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Gedong Wani. Mereka sudah menanam lebih dari 4.000 batang tanaman terdiri dari gaharu, jati, durian montong, karet, serta menanam padi dan jagung di sela-sela tegakan.

Sukses dua daerah itu membuat Siti mengajak semua pihak untuk bekerjasama guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

“Mari kita bekerja bergotong royong dan menginventarisasi lagi kebutuhan masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian hutan,” ucapnya.(RO/OL-06)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya