Perguruan Tinggi Indonesia Harus Masuk Top 500 Dunia

Micom
13/7/2016 20:25
Perguruan Tinggi Indonesia Harus Masuk Top 500 Dunia
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.)

MENTERI Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengimbau seluruh perguruan tinggi di Indonesia agar berpacu dan menjadi perguruan tinggi kelas dunia.

"Paling tidak ada beberapa perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, harus masuk top 500 universitas dunia," kata Menteri Nasir pada acara Silaturahim dengan Civitas Academica Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di Bandung, Rabu (13/7).

Menurut Menristekdikti, untuk mencapai tujuan tersebut seluruh civitas academica di seluruh perguruan tinggi harus fokus pada titik dunia.

"Intinya adalah bekerja secara bersama dan bersatu dalam satu titik untuk menuju perguruan tinggi kelas dunia," ucap Menteri Nasir.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Tim Bumi Siliwangi dari UPI yang memenangi kontes mobil hemat energi, sebagai juara dunia, dengan mengalahkan tim dari Prancis dan Amerika Serikat.

"Dalam waktu dekat tim ini akan mengunjungi pabrikan mobil Ferrari. Saya akan dampingi mereka ke Italia karena ini membanggakan bagi Indonesia," kata Menristekdikti.

Nasir menghargai UPI yang saat ini masuk dalam kriteria Pergurutan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). "Ini grade tertinggi dalam pengelolaan PTN," tuturnya.

Di bawah tingkatan ini, lanjut dia, ada PTNBLU (Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum) yang masih dikendalikan oleh Kemenristekdikti.

"Untuk mendukung program dan target kelas dunia ini, rektor pun harus ikut melakukan monitoring," jelasnya.

Pengawasan tersebut, menurut Menristekdikti, dapat dilakukan pada berapa publikasi internasional yang telah dilakukan.

"Dekan harus menulis dan melakukan publikasi. Demikian pula dengan rektor dan seluruh tenaga pendidik harus mempublikasikan karyanya," tegasnya.

Dalam acara itu, Menteri Nasir mengungkapkan bahwa Sslaturahim sangat cocok dan sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. "Silaturahim itu berasal dari kata rahim yang dimiliki oleh ibu. Jadi, setiap manusia harus menghargai dan menghormati ibu dan harus ingat bahwa kita semua berasal dari rahim ibu," katanya.

Melalui ibu, lanjutnya, terpancar kasih dan sayang yang tulus. "Jadi, setiap muslim atau manusia, harus saling menyayangi. Kalau tidak, berarti belum mempelajari Islam atau agama secara benar," jelas Menristekdikti.

Oleh karena itu, sambung Nasir, radikalisme yang muncul belakangan ini terjadi karena belum adanya pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang Islam. "Islam tidak pernah mengajarkan radikalisme dan sikap anarkisme," pungkasnya. (RO/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya