Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
"JANGAN bapak, kang saja. Kalau bapak, serasa sudah tua," ujarnya sembari tertawa terkekeh. Malam itu selepas isya, Tisna Sanjaya tampak sederhana berbalut kemeja kuning dan celana kain hitam saat ditemui Media Indonesia di kediamannya di Bandung. Senyum acap kali menghias bibirnya. Jauh meninggalkan kesan sangar yang muncul dari kumisnya yang tebal. Tisna Sanjaya merupakan salah satu seniman terkemuka di dunia seni rupa Indonesia. Pria yang lahir di Bandung pada 1958 ini terkenal lewat karya etsa dengan gaya surealis dan tema sosial politik. Dalam perkembangannya ia sering membuat karya-karya instalasi, seni performatif, dan lukisan.
Tisna mulai mendapatkan perhatian dari pengamat seni di Indonesia dan luar negeri sejak akhir 1980-an. Pasalnya karya-karyanya sering bertema sosial politik di Indonesia yang mengandung kritik tajam terhadap rezim Orde Baru (Orba). Malam itu pula, Tisna sedang mempersiapkan keberangkatannya untuk pameran bertajuk Diverse; 4 Indonesian Position di Palais Coburg, Vienna, Austria, 20 Juni-2 Juli. Karya Tisna digelar bersama dengan karya tiga seniman Indonesia lain, yakni Nasirun, Popo Iskandar (alm), dan Ziqo Albaiquni (anak Tisna Sanjaya). Perjalanan seni Tisna berawal kala menjalani pendidikannya di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1986.
Sejak mahasiswa ia menyuarakan kegelisahannya melalui seni. Seperti pada 1982, Tisna melaksanakan pameran tunggal di sepanjang pinggiran Jalan Cikapundung, Bandung. Pameran itu unik sebab dibuka gelandangan yang berada di sekitar daerah itu. "Jadi, menggambarkan situasi lingkungan, sosial, dan konteks politik pada zaman itu," tegasnya. Setelah lulus kuliah, Tisna sempat mengajar di almamaternya sebelum melanjutkan pendidikan di Jerman pada 1991. Di Jerman, Tisna mendapatkan banyak pelajaran tentang lingkungan hidup dan kemanusiaan. "Jadi, saya di Jerman diajari, selain bahasa, juga budaya. Saya kira sama, ya, budaya Indonesia, Sunda, Jawa, dan Jerman mengajarkan cinta lingkungan," ujarnya.
Tak mengherankan jika tema seni Tisna mengalami perubahan dari sosial-politik ke tema lingkungan hidup dan kemanusiaan. Itu ditambah dengan ia banyak bersentuhan dengan berbagai budaya. "Jadi, intinya lingkungan, kemanusiaan, dan sebagainya. Meskipun beda bahasa, beda makanan, sebetulnya, secara kemanusiaan ada kesamaan," lanjutnya lagi. Tema itu pun yang tampak di berbagai karyanya belakangan. Seperti di Pusat Kebudayaan Cigondewah, karyanya juga menyoroti berbagai persoalan di Kota Bandung.
Tisna terbilang aktif baik di nasional maupun internasional. Sejumlah pameran mancanegara diikutinya, seperti di New Delhi, India, 1997, Amsterdam, Belanda, 1999, Venice Biennale, Italia, 2003, dan Gwangju Biennale, Korea, 2004. Tidak hanya itu, sejumlah penghargaan pun disabetnya seperti 10 karya terbaik pada Philip Morris Indonesia Art Awards 1995 dan 1997, penghargaan Sapporo International Print, Jepang, 1997. Pada 2014, Tisna menerima penghargaan Anugerah Adhikarya Seni Rupa dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Tahun berikutnya, proyek seninya ditampilkan pada pameran Secret Archipelago di Palais de Tokyo, Paris.
Pada tahun yang sama, bukunya berjudul Cigondewah diterbitkan NUS Museum, Singapura. Setahun lalu, tepatnya pada Jakarta Biennale 2015, Tisna menghadirkan karya yang ia buat bersama warga di Cigondewah. Tisna bersama petani lokal menanam rempah-rempah di lokasi yang tidak jauh dari Pusat Kebudayaan Cigondewah. Lokasi itu dipilih karena akan dijadikan pabrik pengolahan plastik. Hasil panen itu diolah Tisna menjadi karya instalasi berbentuk kerucut, yang ditampilkan bersama iringan doa dari masyarakat--gambaran akan unsur tradisi setempat. Tisna turut menampilkan seni performa menggunakan tubuhnya, yang akan ia cetak dengan bahan-bahan spesies organik yang tumbuh di sekitar Cigondewah.
Pengaruh ibu
Perkenalan Tisna dengan dunia seni berawal dari kecil. Apalagi sang ibu juga menyukai aktivitas estetis, Tisna banyak bersentuhan dengan hasil kekaryaan yang indah dari sang ibu. "Sebenarnya sih awalnya dari lingkungan terdekat, yaitu Ibu. Ibu saya kan seorang ahli menyulam. Jadi, sewaktu kecil saya sering lihat ibu saya bikin sulam-sulam yang indah sekali," kenangnya. Selain itu, ia dibesarkan di kawasan masjid dan pesantren dan itu tidak menghalanginya untuk akrab dengan seni budaya. Pelataran masjid menjadi tempat bagi Tisna kecil menghabiskan waktu bermain dengan teman sebaya.
Sewaktu sore, ia sering turut permainan rakyat seperti cetkong, bebentengan, atau kuda lumping. Selain itu, Tisna bersentuhan dengan aktivitas religi yang berbaur dengan tradisi. "Kalau sore itu shalawatan, kalau malam itu pengajian. Jadi, tradisi setempat itu masuk masjid. Terasa banget itu dari nadhoman (syair) yang ada hubungan dengan tradisi setempat sehingga saya itu 'kaya' sekali waktu kecil itu, ya melihat seni spiritual di masjid, kultural masjid, kultural agama, seni tradisi Sunda," lanjutnya.
Itulah yang membuat Tisna merasakan besar sekali suasana kultural dalam dirinya. Kondisi lingkungan alami tempat ia besar juga berpengaruh besar. Ia masih segar mengingat sumber mata air yang digunakan warga sekitar untuk membersihkan badan. "Jadi, antara sumber air, lingkungan, dan seni tradisi masih menyatu. Ingatan-ingatan itu yang terus sampai sekarang jadi sumber ilmu," pungkas Tisna. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved