TAFSIR Al Misbah edisi terakhir kali ini akan membahas kandungan Surah Al-Furqan yang dimulai dari ayat 25 sampai dengan ayat 33.
Pada ayat-ayat itu menjelaskan tentang kesombongan kaum musyrik sehingga mereka tidak beriman kepada Allah dan pengaduan Rasulullah SAW kepada Tuhannya lantaran kaumnya tidak peduli terhadap Alquran.
Dimulai dengan ayat 25 yang menyampaikan, "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih serta para malaikat diturunkan (secara) bergelombang."
Dilanjutkan, dengan ayat 26 yang artinya, "Kerajaan yang hak pada hari itu adalah milik Tuhan Yang Maha Pengasih. Dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang kafir."
Kemudian, pada ayat 27 surah Al-Furqan disebutkan pula bahwa orang-orang zalim tersebut di hari kiamat sangat menyesali perbuatan mereka seraya berkata, "Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul."
Makna dari ayat 25 sampai 27 surah Al-Furqan yang diturunkan oleh Allah SWT itu yakni agar manusia senantiasa mengingat hari kiamat, yakni keadaan ketika langit bakal pecah dan malaikat diturunkan satu per satu.
Pada hari itu, merupakan hari yang sangat sulit bagi orang kafir. Mereka hanya bisa menyesali terhadap apa yang mereka kerjakan selama di bumi.
Lantas dilanjutkan pada ayat 28, "Wahai celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku)."
Dilanjutkan pada ayat 29, "sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Alquran) ketika (Alquran) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia."
Ayat 28 dan 29 di sini menceritakan gambaran dari perkataan orang-orang kafir yang menyesali perbuatannya karena telah mengikuti perintah setan dan tidak mengikuti apa yang dituliskan dalam Alquran.
Kemudian pada ayat 30, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Allah SWT, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Alquran ini diabaikan."
Pada ayat 31 diterangkan bahwa Allah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, "Begitulah, bagi tiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa. Tetapi, cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong."
Pada ayat 30 dan 31 tersebut diceritakan mengenai Nabi Muhammad yang mengadu kepada Allah SWT, mengenai perilaku dari kaumnya yang telah mengabaikan Alquran.
Dan Allah mengatakan bahwa hal tersebut merupakan cobaan baginya sebagai salah satu utusan Allah SWT di muka bumi.
Kemudian pada ayat 32 orang-orang kafir berkata, "Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?"
Di sini bisa ditafsirkan bahwa Alquran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar hati Nabi Muhammad SAW menjadi kuat dan tetap.
Selanjutnya, pada ayat 33, "Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik."
Di sini ditegaskan orang-orang kafir itu tidak bakal memberi pengaruh apapun pada Nabi Muhammad SAW lantaran sesuatu yang benar dan baik datangnya dari Allah SWT. (*/H-2)