BERAGAM model kemeja flanel menggantung di depan sebuah toko yang berhadapan tepat dengan eskalator di pusat perbelanjaan Pasar Senen, Jakarta. Pakaian-pakaian impor itu berjejer layaknya barisan tentara agar pengunjung langsung melirik seketika menginjakan kaki di lantai dua.
Namun, hingga menjelang petang hanya segelintir pembeli tertarik untuk membeli dagangan yang diobral seharga Rp75 ribu per potong itu. Sejumlah pengunjung lainnya hanya sekadar menawar atau melihat-lihat. "Kalau saat ini (pembeli) memang cukup sepi, mungkin karena sudah banyak yang mudik juga," ujar Joni, penjual kemeja flanel tersebut, saat dikunjungi Media Indonesia, kemarin. Ia mengungkapkan puncak penjualan telah terjadi pada akhir pekan lalu.
Kendati begitu, ia mengaku terjadi kelesuan pembeli jika dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu. Tak pelak, kondisi itu berdampak pada omzet. "Omzetnya sekarang juga sedang tidak stabil, setiap hari bisa naik dan bisa turun, kadang bisa dapat untung, kadang hanya cukup buat bayar pegawai," keluh Joni.
Keluhan yang sama juga diungkapkan penjual kaus oblong impor, Indri, 35, dan pedagang pakaian impor, Puput, 25. Meski telah diberi diskon, penjualan tetap tidak membeludak. "Lebaran sekarang sepi, sehari cuma bisa dapat Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Ramadan tahun lalu, penjualan rata-rata bisa dua kali lipat dalam sehari," kata Puput, yang menjajakan baju bekas dari Singapura, Korea, Malaysia, dan Jepang.
Menurut dia, banyak faktor penyebab penurunan penjualan, seperti pelemahan daya beli masyarakat dan peningkatan animo terhadap pakaian baru. Akan tetapi, ia menolak sepinya pengunjung lantaran dagangannya ilegal seiring dengan penerapan aturan larangan impor baju bekas.
"Saya hanya tahunya barang ini sudah sampai di sini berkarung-karung, terus kita bongkar karungnya dan digantung bajunya," pungkas Puput. Sebelumnya, menindaklanjuti UU No.7/2014, Menteri Perdagangan Rachmad Gobel melarang impor pakaian bekas. Langkah itu diperkuat Permendag No. 51/M-DAG/PER/7/2015.
Naik 30% Sementara itu, permintaan makanan dan minuman olahan di bulan puasa dan menjelang Lebaran diperkirakan mengalami kenaikan yang signifikan, yakni sebesar 30%, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman menyebutkan nilai penjualan bisa naik dari Rp80 triliun/bulan menjadi Rp120 triliun/bulan.
"Peningkatan konsumsi makanan-minuman olahan biasanya mencapai 30% jika dibandingkan dengan bukan bulan Ramadan, atau 1,5 kali lipat secara umum," ujar Adhi via telepon, Senin (13/7). Apabila dibandingkan dengan Ramadan tahun lalu, menurut dia, omzet justru menurun di tahun ini. Pasalnya, tingkat konsumsi warga tergerus seiring dengan perlambatan ekonomi di dalam negeri.
"Saat ini daya beli masyarakat sedang melemah. Menurut perhitungan, dampaknya nanti ada pada tingkat konsumsi secara tahunan di periode yang sama, yang tadinya 8% mungkin akan turun menjadi 5%-6%." Mesti demikian, General Manager Marketing PT ICBP Noodle Division Julia Atman mengatakan, sepanjang Ramadan ini, perseroan mencatatkan penjualan terutama mi instan yang naik sekitar 10%-15% ketimbang non-Ramadan.
Kenaikan terjadi secara nasional. Lebih lanjut, dia pun mengaku perlambatan ekonomi Indonesia tidak berpengaruh signifikan terhadap bisnis makanan dan minuman produksi PT ICBP. Menurutnya, produk mi instan telah dianggap sebagai alternatif pengganti nasi.