ISLAM mewajibkan pemeluknya untuk berzakat atau menyisihkan sebagian harta untuk orang lain. Itu artinya mengajarkan orang untuk berbagi.
Oleh karena itu, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) melalui gerakan Indonesia Berzakat mengajak masyarakat untuk senantiasa menjadikan ibadah sosial itu sebagai budaya hidup sehari-hari tidak hanya ketika Ramadan. Dengan demikian, kebiasaan memberi itu tidak hanya dianggap sebagai kewajiban, tapi juga sebagai kebutuhan.
Ketua Baznas Didin Hafidhuddin mengatakan zakat sesungguhnya berpotensi sangat besar untuk menyejahterakan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. "Indonesia Berzakat ini ingin menggerakkan masyarakat untuk menjadikan zakat sebagai lifestyle, selain juga membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan," ujarnya seusai acara Ramadan Kita #Indonesia Berzakat di Studio Grand Metro TV, Jakarta, kemarin.
Didin berpendapat di negeri ini masih banyak kendala di bidang ekonomi. Padahal, menurutnya, Islam telah menawarkan alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya melalui zakat.
Oleh karena itu, Didin berharap peringatan Hari Zakat Nasional yang dirayakan setiap 27 Ramadan atau 14 Juli bisa menyentuh hati para pengambil kebijakan untuk mengadopsi zakat sebagai upaya memperbaiki sistem ekonomi di masyarakat.
"Di sini kita juga ingin memberikan sosial edukasi bagi pembangunan karakter bangsa. Salah satunya prinsip dasar pengelolaan zakat melalui amil yang mengacu pada standar prosedur serta pengawasan yang baik," ungkap Didin.
Pada acara tersebut, Baznas juga menerima secara simbolis zakat perusahaan oleh PT Bank BRI Syariah senilai Rp2.191.130.915. Jumlah dana yang akan disalurkam Baznas itu termasuk zakat penutupan 2014 ditambah zakat karyawan sejak Januari-Juni 2015. Kebiasaan bersedekah Kata Didin, di masa depan pengelolaan zakat harus bisa dilakukan secara lebih terintegrasi, mulai Baznas pusat hingga Baznas di daerah-daerah serta lembaga penerimaan zakat lainnya. Dengan begitu, budaya zakat bisa bersama-sama dikembangkan.
Bahkan, mengutip perkataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Didin mengatakan, "Di rumah, di sekolah, kita budayakan zakat. Ajarkan zakat agar budaya berbagi kepada sesama bisa ditumbuhkan."
Dengan demikian, prinsip tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah tertanamkan. Begitu juga yang diharapkan, agar masyarakat terbiasa untuk menjadi muzaki (pemberi sedekah).
Hal senada diutarakan Ustaz Yusuf Mansyur. Menurut dia, zakat mampu mengajarkan seseorang akan keikhlasan dan kedermawanan.
Menurut Yusuf, keikhlasan zakat dan memberi karena Allah pasti akan mendapatkan balasan yang lebih besar. Karena itu, umat Islam diwajibkan berzakat.
Dia pun mengimbau kepada masyarakat agar kebiasaan memberi yang bisa mendatangkan rahmat Allah harus selalu ditingkatkan. "Sebab berkahnya bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk sesama," ujar ustaz yang sering tampil di televisi itu. (Pol/M-6)