DALAM hitungan hari, Ramadan akan berlalu. Itu artinya kita akan bertemu dengan yang namanya Idul Fitri. Boleh dibilang, di negeri ini tidak ada Lebaran tanpa hiruk-pikuk mudik.
Inilah saat bagi para perantau berhadapan dengan buah simalakama. Kalau masih jomlo, mudik Lebaran berarti akan ketemu banyak orang dengan pertanyaannya yang nyaris seragam, kapan nikah? Kalau sudah nikah tapi belum punya anak, akan ditanya kapan punya momongan? Kalau sudah nikah dan punya anak, akan berlanjut dengan kapan menambah anaknya? Kalau sudah punya anak banyak, akan ditanya kenapa punya anak banyak sekali, biaya hidup dan sekolah kan mahal? Tak selesai-selesai, ya, pertanyaannya.
Ada lagi cerita, jadi perantau yang pulang kampung di hari Lebaran itu makan hati sekali. Kalau mudik biasa-biasa saja dan apa adanya, akan ditanya buat apa sengsara di perantauan, tinggal di rumah kontrakan, kerja banting tulang hanya habis buat makan, kalau ternyata tidak ada hasilnya? Mendingan juga di kampung sendiri saja, makan tidak makan asal kumpul, katanya.
Kalau memaksakan diri untuk bergaya sukses, lebih repot lagi menghadapi sindiran supaya bagi-bagi rezeki. Apa tidak tahu kalau mobil yang dibawa hanya sewaan atau kreditan, yang harus memeras keringat ‘darah’ untuk membayarnya?
Rumah masih kontrak yang tiap tahun terus naik biayanya, atau kalau sudah bisa kredit juga baru akan lunas sekian belas tahun lagi angsurannya. Jadi, kehidupan di kota itu tidak seindah kisah sinetron-sinetron di televisi yang penuh dengan kemewahan.
Akan tetapi, tidak pulang kampung juga bukan solusi. Dibilang sudah jadi kacang lupa kulitnya, takut dihabiskan harta hasil merantaunya, sampai ada yang mengingatkan kisah si Malin Kundang segala. Padahal, orangtua juga tahu dan bisa merasakan susahnya hidup di perantauan. Pulang tidak harus di hari Lebaran, yang ribet dan ribut persiapan perjalanannya.
Yang bukan perantau bagaimana? Sama saja ternyata, banyak dari mereka yang kepingin punya kampung halaman biar bisa merasakan kesibukan mudik Lebaran. Daripada tidak pergi ke mana-mana, tapi tidak bisa apa-apa. Tempat kerja libur, tempat makan tutup, tempat rekreasi ramai luar biasa. Jadinya di rumah saja, mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan asisten rumah tangga.
Kalau sudah begini, jadi bersyukur sekali jadi perantau nanggung seperti saya ini. Perantau tapi hanya sejarak Bandung dan Jakarta. Bolak-balik begitu juga santai saja, tidak banyak makan biaya, macet sedikit tidak mengapa, masih bisa dijalani dengan gembira. Tahu-tahu sudah lewat saja musim Lebarannya. Kembali menjalani kehidupan sehari-hari yang seperti biasanya. Kenapa Ramadan saya begini-begini saja, ya? (H-1)