Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais(ANTARA/Syaiful Arif)
UMAT Islam diminta untuk tetap optimistis terhadap kondisi bangsa ini yang kini dililit sejumlah permasalahan. Optimisme itu seharusnya bisa terus meningkat selepas Ramadan yang bakal berakhir beberapa hari lagi.
"Negara-negara muslim seperti Mesir, Irak, Suriah, Tunisia, dan Yaman tak kondusif akibat konflik. Indonesia juga mengalami cobaan di sektor ekonomi, sosial, dan politik. Namun, dengan suasana Ramadan, mestinya optimisme kembali tumbuh," ungkap mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais saat memberikan tausiah pada penutupan Gebyar Ramadan, di kampus UHAMKA, Jakarta, kemarin.
Ia menerangkan Allah SWT melarang umat Islam bersikap pesimistis meski situasi sedang mengimpit. Selama Ramadan, misalnya, meski lapar dan haus saat siang hari karena puasa, toh akhirnya mereka yang berpuasa mampu menunaikan ibadah puasa hingga matahari terbenam.
"Artinya meski umat Islam di Tanah Air terkondisikan seperti kalangan duafa dan mustadafin mengingat berbagai sektor penting di negeri ini dikuasai pihak lain, jangan pernah ada rasa pesimisme yang muncul pada umat Islam," lanjut dia.
Apabila rasa pesimisme muncul, lanjut Amien, yang terjadi bisa seperti negeri-negeri muslim lain seperti Mesir yang bangkrut lantaran konflik bersaudara, juga Libia, Tunisia, dan Yaman, yang dilanda konflik.
"Hampir semua negeri muslim kacau-balau, terkecuali Turki, Malaysia, Iran, dan Indonesia. Karena itulah momentum Ramadan yang sebentar lagi akan berakhir harus memberikan makna bahwa roh Islam itu tidak pernah pesimistis dan sebaliknya harus optimistis," ungkap mantan Ketua MPR itu.
Dalam hal ini, Guru Besar Fisipol UGM itu mencontohkan optimisme umat Islam pada spirit napas keagamaan yang kini masih hidup di kampus dan generasi muda muslim.
"Saya keliling ke kampus baik di lingkungan Muhammadiyah maupun non-Muhammadiyah serta lembaga-lembaga Islam lainnya, saya saksikan para mahasiswa Indonesia memiliki spirit roh Islam yang luar biasa," kata Amien.
Di salah satu kampus di Surakarta, Jawa Tengah, misalnya, terdapat 36 mahasiswa yang hafiz Alquran. Begitu pula masjid-masjid di Yogyakarta tetap semarak dengan bacaan-bacaan Alquran. "Kondisi ini menunjukkan kecintaan umat Islam kepada Allah yang tetap stabil serta meningkat," kata dia.
Fenomena lain, jelas tokoh reformasi 1988 tersebut, yakni meningkatnya jemaah umrah setiap bulan ke Tanah Suci. Apalagi pada Ramadan ini ratusan ribu umat Islam berbondong-bondong umrah ke Tanah Suci.
Namun, ia mengingatkan, dengan menengok sejarah ke belakang, kemajuan peradaban Islam yang mencerahkan dunia pada masanya terjadi karena pemimpinnya menjadikan Alquran sebagai pedoman.
"Maka, penting sekali umat Islam menjadikan Alquran sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari," imbuh dia.
Bekerja lebih baik Dalam kesempatan itu, Amien mengutip sejumlah surah dalam Alquran yang mencerminkan pentingnya jihad. Menurut Amien, ada 86 kata jihad dalam Alquran yang berarti umat harus aktif, kreatif, dan produktif. "Artinya jihad di sini bukan ala ISIS, tapi gairah total untuk bekerja lebih baik dan beraktivitas secara total," tambahnya.
Di sisi lain, lanjut Amien, jihad juga harus dimaknai secara positif, yakni berlomba-lomba dalam kebaikan atau fastabiqul khoirot. "Karena itulah, marilah umat Islam dan para pemimpin muslim melakukan gerakan untuk kebaikan meski Ramadan telah berakhir," pungkas Amien. (H-2)