Beriktikaf di Masjid Jamik Tegalsari

MI/Sunarwoto
14/7/2015 00:00
Beriktikaf di Masjid Jamik Tegalsari
(MI/Sunarwoto)
MASJID Jamik Kiai Ageng Mohamad Besari berada di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Masjid tersebut berseberangan dengan sungai dan pada hari biasa lengang. Pada bulan Ramadan, terutama pada malam ganjil 10 hari terakhir puasa, masjid tua di pinggiran desa itu ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah.

Mereka yang datang umumnya untuk takarub (mendekatkan diri kepada Allah SWT). "Pada malam-malam ganjil, masjid ini banyak dikunjungi orang. Mereka yang datang dari berbagai penjuru daerah. Bahkan, dari kota-kota besar seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta," kata Syamsudin Mustofa, salah seorang imam Masjid Jamik Kiai Ageng Mohammad Besari, Jumat (10/7).

Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Tegalsari itu terbilang tua. Masjid didirikan pada 1742 oleh Kiai Ageng Mohamad Besari, yang masih keturunan Prabu Brawijaya. Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 4.500 meter persegi itu tercatat sebagai situs atau cagar budaya.

"Pembangunan masjid ini konon materialnya diambilkan dari Kerajaan Majapahit." Jemaah bisa mencapai ribuan saat kegiatan iktikaf (qiyaamu lailati Ramadan). Acara yang tak kalah menyedot animo masyarakat ialah saat Tahlil Qubro dan Haul Ambengan (peringatan haul pendiri masjid).

Takmir masjid juga membagi kegiatan kegamaan lain setiap minggu atau bulan. "Setiap Ahad Pon ada semaan Alquran Biannadhor, ada dikrul ghofilin setiap malam Jumat Kliwon, dan mujadahan setiap malam Selasa Kliwon," rincinya sembari menyebut masih ada sejumlah kegiatan lain seperti pengajian kitab kuning--khas pondok tua.

Kini masih terdapat dua bongkah batu tua bentuk persegi panjang seukuran 50x200 sentimeter di masjid itu. Batu itu diletakkan sebagai pijakan pengganti tangga menuju serambi masjid. Batu itu bertuliskan huruf palawa di bagian sisinya. Pengurus sengaja mempertahankan konstruksi bangunan masjid tua itu.

Hampir tidak ada yang berubah tata ruang di masjid itu sejak berdiri. Ruang persegi panjang seukuran 16 meter persegi itu memiliki 36 tiang kayu jati. Sebanyak 22 tiang berbentuk bulat. Sementara itu, 14 sisanya persegi. Empat tiang di tengah terlihat lebih besar. Atapnya sirap dari kayu jati. Konstruksi kuno menjadikan Masjid Jamik Tegalsari terlihat eksotis.

Kiranya itulah ia termasuk menjadi objek wisata religi di Ponorogo dan Jatim. "Dulu pernah diubah genteng, tapi dikembalikan lagi," ungkap Syamsudin sembari menyebut pemasangan kayu tidak menggunakan paku, tapi pasak.

Ponpes
Kiai Ageng Besari setelah tuntas membangun masjid kemudian mendirikan pondok pesantren (ponpes). Ponpes yang diberi nama Gebang Tinatar itu sempat memiliki ribuan santri. Pondok yang awalnya untuk syiar agama bagi daerah sekitar, yakni Jabung dan Mlarak, itu didatangi banyak santri dari luar daerah.

Raden Ngabehi Ronggowarsito dan HOS Cokroaminoto merupakan santri Tegalsari. Selain itu, ada Kiai Ketib Anom Caruban dan Kiai Ageng Basyariah Sewulan Madiun, yang melahirkan pesantren-pesantren di Jawa Timur seperti Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. "Jadi masjid tua ini juga memiliki andil besar melahirkan tokoh-tokoh nasional. Dulu awalnya Tegalsari ini memiliki ribuan santri, tapi sejak zaman kemerdekaan, jumlah santri merosot dan menjadikan Tegalsari sepi," kata Syamsudin yang kini mengaku berumur 74 tahun.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya