FAKULTAS pertanian yang selama lima tahun terakhir terlempar dari lima besar program studi favorit tahun ini kembali masuk lima besar pilihan favorit calon mahasiswa.
Program studi di fakultas pertanian bersanding dengan informatika dan komputer, kedokteran, teknik sipil, dan farmasi, untuk kategori sains dan teknologi.
"Belum dapat disimpulkan, apakah ini menunjukkan ada ekspektasi atau memang ada kebijakan pemerintah agar bisa swasembada pangan," ujar Ketua Panitia Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Rochmat Wahab di Jakarta, akhir pekan lalu.
Tahun ini, SBMPTN atau ujian tulis masuk PTN meluluskan 121.653 calon mahasiswa atau 17,5% dari total pendaftar yang mencapai 693.185 orang. Jumlah kursi kosong mencapai 4.311 kursi yang tersebar pada 74 PTN.
Menurut Rochmat, kembalinya fakultas pertanian dalam lima besar fakultas yang diminati bisa jadi tantangan bagi pemerintah untuk memberi perhatian khusus bagi sektor pertanian.
Pengamat pertanian Bustanul Arifin menyatakan banyaknya peminat fakultas pertanian pada tahun ini disebabkan usaha rebranding oleh penyelenggara pendidikan dan para pelaku bidang pertanian.
Rebranding itu dilakukan seperti pada program studi agroteknologi dan bioteknologi. "Rebranding penting untuk meningkatkan minat generasi muda agar kelak menjadi sarjana pertanian," ujar Bustanul.
Sarjana teknik langka Pada kesempatan berbeda, Presiden Direktur IBM Indonesia Gunawan Susanto menambahkan, kembalinya fakultas pertanian sebagai salah satu pilihan favorit merupakan angin segar bagi Indonesia yang merupakan negara agraris. Dengan begitu, diharapkan lahir sarjana pertanian yang handal.
Akan tetapi, ia mengingatkan seiring dengan kemajuan ekonomi Indonesia yang diikuti kemajuan teknologi, lulusan sarjana teknik pun dibutuhkan saat ini. "Setidaknya 36 ribu-40 ribu insinyur tiap tahunnya dibutuhkan sebab dari total 700 ribu sarjana teknik di Indonesia sekarang ini, hanya sekitar 45% yang bekerja sesuai dengan bidang," ungkap Gunawan.
Dia menekankan fondasi kebutuhan sarjana teknik harus sudah ditanamkan sejak SMA. Gunawan mencontohkan SMA Sampoerna Academy yang menekankan pendidikan teknik pada basis <>science, technology, engineering, and math (STEM) sebagai landasan.
"Banyak perusahaan berbasis teknologi seperti IBM saat ini butuh tenaga kerja berkompetensi STEM. Itu sebabnya ini perlu jadi perhatian pemerintah agar kebutuhan sarjana teknik tak diisi lulusan dari luar negeri," pungkasnya. (H-2)