Allah, Sumber Cahaya di Langit dan Bumi

Quraish Shihab
13/7/2015 00:00
Allah, Sumber Cahaya di Langit dan Bumi
()
TAFSIR Al-Misbah edisi kali ini membahas kandungan Surah An-Nur ayat 35-40. Ayat-ayat tersebut secara garis besar menjelaskan Allah SWT sebagai sumber cahaya di langit dan bumi serta pujian Allah kepada orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid-Nya.

Pembahasan diawali pada ayat 35 bahwa Allah merupakan pemberi cahaya pada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu berada di dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu seperti bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun.

Maksud dari lubang yang tidak tembus (misykat) pada ayat tersebut ialah lubang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain.

Perumpamaan pohon zaitun itu disebabkan pohon zaitun tumbuh di puncak bukit sehingga mendapatkan sinar matahari baik pada waktu matahari terbit maupun ketika akan terbenam, dan pohonnya pun subur serta buahnya menghasilkan buah yang baik.

Selanjutnya, pada ayat 36, 'Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petan'.

Maksud ayat 36 ialah cahaya-cahaya itu dari orang-orang yang sering bertasbih kepada Allah sehingga rumah mereka akan dihiasi cahaya dari tasbih mereka tersebut.
Kemudian pada ayat 37, 'orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan salat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat)'.

Dilanjutkan pada ayat 38, '(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki pada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas'.

Maksud ayat 37 dan 38 orang-orang yang sering bertasbih pada Allah tidak disibukkan kegiatan duniawi. Mereka akan mendapat balasan setimpal atas perbuatan mereka pada hari kiamat nantinya.

Kemudian pada ayat 39, 'Dan orang-orang yang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi, tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya'.

Selanjutnya ayat 40, 'atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya, hampir tidak dapat melihatnya. Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun'.

Maksud ayat 39-40 tersebut ialah orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapat balasan dari Allah di akhirat meski di dunia mereka mengira akan mendapat balasan atas amal mereka. (*/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya