SAYA tidak suka utang, baik berutang atau mengutangi. Utang lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat. Masih ingat peribahasa, utang budi dibawa mati? Itu tidak enak sekali. Kalau Budi berutang ke saya, berarti duit saya enggak kembali. Sebaliknya, kalau saya utang sama Budi lalu saya bawa mati, kan bahaya. Di akhirat saya ditagih lalu pahala saya yang cuma seuprit diambil untuk membayar utang pada Budi. Bisa-bisa saya jadi masuk neraka gara-gara si Budi, eh, utang.
Setidaknya semua orang punya utang budi, yang kita bawa sampai mati. Tentu, itu disebabkan kita selalu butuh orang lain, dari sejak kandungan sampai masuk kuburan. Kita tidak akan bisa membayar dengan uang.
Memangnya kita mau bayar berapa untuk ibu kita? Iya, ibu yang sembilan bulan lebih mengandung, dua tahun menyusui, mengurusi kotoran, makanan, mengajari bicara, berjalan, membaca, dan lain-lain pada diri kita semasa kecil. Kalau kita hanya ingat sedikit apa yang dilakukan ibu ketika masih bocah, bagaimana kita menghitung lalu membayar semua budi baik dan jasanya?
Itu baru utang budi kepada ibu, belum bapak, kakek, saudara, tetangga, guru, teman, dan banyak orang yang punya hubungan dengan hidup kita. Kita bahkan berutang budi pada orang yang tidak kita kenal, yang ada di pinggir jalan dan kita tanya saat tidak tahu jalan.
Kita tidak tahu kehidupan kita setelah ini, bagaimana menjelang kematian, apakah sakit parah atau kecelakaan, siapa terakhir yang memberi pertolongan, dan kalau mati, siapa yang menguburkan. Astaghfirulloh, mengerikan sekali kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan kita di dunia ini. Baru utang pada manusia saja, sudah tak terhitung jumlahnya. Tak ada harapan bisa lunas membayarnya. Bagaimana dengan utang kita kepada Allah, coba? (*/H-2)