SUARA beduk yang dita buh di Masjid Agung Surakarta itu menanda kan waktu salat zuhur telah tiba. Sesaat kemudian, seruan azan berkumandang.Seusai melaksanakan ibadah di kompleks Keraton Surakarta itu, saya dan beberapa wartawan bergegas menuju Kabupaten Sukoharjo.
Setibanya di sana, rombongan parade beduk tengah me ngelilingi kawasan yang identik dengan kuliner bakmi jawanya itu. Sementara itu, di sisi kanan lapangan Stadion Mini Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, beberapa kelompok warga yang setidaknya terdiri dari tiga orang tiap kelompok unjuk kebolehan memainkan beduk untuk berkompetisi.
Ternyata gelaran bertajuk Bedug Asyiiik itu sudah sejak akhir Juni lalu diselenggarakan di Mojokerto, Bandung, Ci rebon, dan menyusul di beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Timur. Tak kurang dari 14 kota akan menggelar helatan tersebut hingga awal Agustus mendatang.
Mereka memang bukan berasal dari kalangan musi si profesional yang terampil membuat ritme menarik. Meski demikian, rampak beduk ternyata membawa sebuah semangat pertemanan. Banyak kalangan masyarakat dari pa guyuban terminal hingga masyarakat sekitar Sukoharjo pun turut serta.
"Memainkan rampak beduk tidak semudah yang dibayangkan. Harus ada yang bisa me mimpin untuk membagi pukulan. Lewat kesempatan ini juga kami bisa berkenalan dengan komunitas lainnya," kesan anggota paguyuban perajin mainan, Wawan.Pertunjukan layak Di Indonesia, beduk merupakan alat musik yang sudah mewakili sebuah elemen kegiatan keagamaan dan sekaligus menjadi musik perkusi Nusantara. Di daerah Jawa Barat ada permainan seni ngadulag.
Tabuhan beduk di tiap-tiap dae rah memiliki perbedaan dengan daerah lainnya sehingga menjadikannya khas. Istilah ngadulag menunjuk kepada sebuah keterampilan menabuh beduk. Kini keterampilan menabuh beduk telah menjadi bentuk seni yang mandiri, yaitu seni ngadulag (permainan beduk).
Di daerah Bojonglopang, Sukabumi, seni ngadulag telah menjadi sebuah kompetisi untuk mendapatkan penabuh beduk terbaik. Kompetisi terbagi menjadi dua kategori, yaitu keindahan dan ketahanan.Keindahan mengutamakan irama dan ritme tabuhan beduk, sedangkan ketahanan meng utamakan daya tahan menabuh atau seberapa lama kekuatan menabuh beduk. Kompetisi tersebut diikuti laki-laki dan perempuan.Da ri permainan inilah seni menabuh beduk mengalami perkembangan. Dahulu, peralatan seni menabuh beduk hanya terdiri dari beduk, kohkol, dan trompet. Namun, kini peralatannya pun mengalami perkembangan.
Selain yang telah disebutkan, menabuh beduk kini juga dilengkapi dengan alat-alat musik seperti gitar, keyboard, dan simbal. Akhirnya beduk menjadi sebuah pertunjukan layak tonton.
Pengamat seni dan budaya In donesia sekaligus dosen Etnomusikologi ISI Surakarta Joko Suranto Gombloh mengatakan masyarakat tradisional masih menjaga tradisi beduk untuk arena berkumpul.
"Beduk menjadi dimensi sosial yang mencakup Bhinneka Tunggal Ika. Ini yang menjadi dimensi pertemanan dan si laturahim. Kita mengenal be duk dari tradisi spiritual Buddha. Perkembangannya juga menjadi taiko (drum besar di Jepang) dari segi pertunjukan. Masyarakat Indonesia pun akan bisa menikmati ekspresi beduk yang bermacammacam," ungkapnya.
Secara komposisi, para peserta beduk memang jauh dari kategori pertunjukan perkusi yang layak. Namun, Gombloh menekankan mereka tetap memiliki potensi untuk membuat seni pertunjukan yang layak tampil.
Di beberapa daerah juga sudah banyak mengembangkan kesenian rampak beduk seperti di Banten yang sering mengadakan festival rampak beduk. Lalu Bengkulu dengan dol (perkusi dari pohon kelapa) serta gondang di Batak. (M-6) miweekend @mediaindonesia.com