RIYA

12/7/2015 00:00
 RIYA
()
SECARA naluri, manusia pasti ingin dipuji.

Namun, celakanya, keinginan untuk dipuji itu bisa membawa kita ke neraka. Meski yang kita lakukan perbuatan baik, kalau dasarnya ingin dipuji, itu sia-sia saja, bahkan bisa membawa kita ke neraka.

Saya jadi ngeri membayangkannya.

Bukan apa-apa, susah sekali menghindari riya alias pamer. Terlebih di era media sosial sekarang ini.

Mengunggah foto musala di pusat perbelanjaan saja pasti ada yang menganggap riya. Padahal, tujuannya ingin berbagi cerita soal tempat salat yang nyaman.

Ya, memang agak susah juga karena ketika mengunggah foto ke media sosial, kemungkinan besar ada sedikit rasa ingin dipuji. Yah, minimal ingin dipuji karena telah membagi info berguna.

Kalau mengingat dosa riya, saya lalu terbayang beberapa minggu terakhir ini. Saya sering me-retweet link tulisan terbaru saya di kolom ini lewat akun Twitter. Saya melakukan itu sudah pasti karena ingin dipuji karena bisa menulis kolom di surat kabar nasional yang bergengsi.

Namun, kalau saya tak melakukan itu, saya melanggar janji untuk mempromosikan tulisan lewat akun media sosial saya.

Melanggar janji merupakan bentuk khianat. Namun, memenuhi janji itu menjadikan saya riya. Serba salah kan.

Jadi, kesimpulan saya, riya merupakan salah satu dosa yang susah sekali dihindari.

Dosa yang lain, kasarnya sih, mudah diukur dan dideteksi. Riya itu salah satu dosa canggih, tak mudah dideteksi.

Adanya di dalam hati kita, di alam bawah sadar kita.

Jangankan orang lain, kita saja masih banyak yang belum mengenal diri sendiri. Mungkin kita perlu bantuan ahli hipnosis untuk mendeteksi apakah kita melakukan sesuatu karena ingin dipuji atau tulus. Ahli hipnosis biasanya bisa mengorek isi hati terdalam manusia.

Wah, ide bisnis yang bagus nih buat para ahli hipnosis. Terima hipnoterapi untuk mendeteksi dan menghilangkan sifat riya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya