MENJELANG Idul Fitri, masyarakat In donesia disibukkan dengan aktivitas mudik ke daerah asal. Kemacetan kerap membayangi, tapi sebagian memilih moda transportasi yang lebih nyaman dengan sedikit merogoh kocek lebih dalam.
Rasa kebersamaan dan kenyamanan menjadi alasan Widjayanti Tundjung, 56, wiraswasta, menyewa kereta api (KA) wisata tipe priority untuk mudik ke Yogyakarta, 15 Juli mendatang. Kereta itu berkapasitas 28 orang, dengan fasilitas karaoke, film, makan & minum, minibar, bagasi, dan toilet pribadi. Di setiap kursi terpasang layar sentuh untuk hiburan selama perjalanan.
"Sebenarnya bisa pakai pesawat, tapi kalau pakai KA wisata ini kan kebersamaan bersama keluarganya itu yang penting. Kita bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan bersama dengan keluarga," kata Widjayanti kepada Media Indonesia di Jakarta, Rabu (8/7). Ini bukan kali pertama Widjayanti menyewa KA wisata. Namun, ini pertama kali ia menggunakannya untuk mudik.
Biaya yang dikeluarkan Widjayanti mencapai Rp26 juta sekali jalan, tapi itu dinilai sepadan dengan fasilitas dan pelayanan yang diberikan.
"Sampai sejauh ini, berdasarkan pengalaman saya, pelayanannya memuaskan, mulai krunya yang baik dan kooperatif, makanan yang disediakan sendiri menunya ok dan prasmanan, kamar mandinya juga bersih, keretanya sendiri nyaman," imbuhnya.
Kesan serupa dirasakan Irmaniar, 24, karyawan swasta yang menggunakan KA wisata dengan alasan pekerjaan di daerah Jawa Tengah.
"Fasilitasnya bagus, ada karaokenya, kursinya lega, dan lebih nyaman jika dibandingkan dengan KA kelas eksekutif, disediakan koran dan welcome drink. Interiornya mewah dan ada ruang tersendiri untuk koper dan tas-tas, makanannya juga enak dan prasmanan, serta suara bising kereta tidak terlalu terdengar. Kapasitas penumpangnya pun hanya sekitar 20 orang," jelas Irmaniar kepada Media Indonesia, Selasa (7/7).
Artis sampai keluarga KA Wisata, kata Direktur Utama PT Kereta Api Pariwisata Adi Suryatmini, sebenarnya sudah ada sejak 1980-an. Namun, itu terbatas untuk presiden dan pejabat negara. Baru pada 1990-an itu dipasarkan ke masyarakat dan animonya besar. Dari 3 tipe, yakni KA wisata Nusantara, Bali, dan Toraja, sekarang menjadi 9 KA dengan 7 tipe.
"Kita tambah dengan tipe baru yang kita analisis sesuai dengan kebutuhan masyarakat, misalnya tipe priority yang di belakang tempat duduknya dilengkapi dengan layar video on demand (VOD) seperti di pesawat. Pada 2014, tipe priority dan imperial sudah bisa dinikmati masyarakat. Selain itu, kita memiliki tipe Jawa dan Sumatra yang mirip dengan tipe Bali dan Nusantara, tapi desainnya lebih modern minimalis," jelas Adi.
Penyewanya, kata Adi, beragam, dari kalangan artis papan atas sampai keluarga biasa yang ingin berekreasi dengan keluarga besar.
"Penggunanya tidak hanya kalangan artis seperti Mayangsari dan Bambang Trihatmodjo yang merupakan langganan kami. Ada pula komunitas, keluargakeluarga biasa yang bepergian dengan anak cucunya, instansi, dan lain-lain. Namun karena ini momen Lebaran, kebanyakan penyewanya saat ini adalah keluarga," imbuhnya.
Kebanyakan penyewa memesan karena ingin membangun keakraban dengan keluarga, tetapi ada juga yang disebabkan kesulitan mendapatkan tiket pesawat.
"Dengan kapasitas KA kami 20 sampai 28 orang, kalau dihitung dan dipertimbangkan mereka pakai KA wisata," lanjutnya.
Dari Jakarta, KA wisata berangkat mulai Stasiun Gambir menuju 11 kota di Pulau Jawa, yakni Bandung, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Cilacap, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Malang. Namun, penyewa bisa menyesuaikan kota keberangkatan selain Jakarta.
"Untuk rute favoritnya, selama ini untuk jarak pendek itu ke Cirebon, jarak menengah favoritnya Yogyakarta, dan jarak jauh itu favoritnya ke Malang," cetusnya. Biaya yang dikeluarkan tidak murah. Biaya rute Cirebon menghabiskan dana Rp14,5 juta untuk hari biasa dan Rp15,5 juta di akhir pekan, sedangkan saat liburan melonjak menjadi Rp18,5 juta.
"Kenapa tarifnya tidak murah? Pertama karena pelayanannya full service, ada makan minum yang prasmanan, pramugara-pramugari, trip leader. Penumpangnya terbatas 20-28 orang karena ada sekat penggunaan ruangannya. Pengguna bisa bersantai dengan berkaraoke yang tidak bisa dinikmati di KA reguler, toiletnya khusus," jelas Adi. Pemesanan harus satu bulan sebelum perjalanan, sedangkan saat mudik dua bulan sebelumnya.
Heli dan jet Tidak hanya KA wisata, ada juga yang menggunakan helikopter dan jet. Itu seperti halnya Desi Ratnasari yang dikabarkan sering mudik ke Sukabumi, Jawa Barat, dengan menggunakan helikopter. Sayangnya, Desi enggan berbagi pengalaman.
"Alhamdulillah dari dulu saya enggak mau share, pasti banyak kok yang pakai helikopter," jelas anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.
Salah satu perusahaan penyedia penyewaan helikopter dan pesawat ialah Whitesky Aviation. Perusahaan itu memiliki 6 unit helikopter terdiri atas 3 unit tipe Bell 429 dan 3 unit tipe Bell 407. Selain itu, ada pesawat fixed wing seperti Grand Caravan dan Cessna 402B.
"Jenis pelayanan yang diberikan kalau untuk city transport melayani wilayah yang rute utamanya Jakarta-Bandung, tapi helikopter kan bisa naik di mana saja tidak harus di bandara, termasuk daerah Jakarta dan sekitarnya," ujar Presiden PT Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja saat ditemui Media Indonesia di kantornya di Jakarta, Jumat (3/7).
Denon menambahkan selama ini pelanggannya menggunakan jasanya untuk keperluan bisnis.Fasilitasnya cukup nyaman yang mampu mengangkut lima penumpang, ber-AC, minim getaran, dan ada sistem audio.
Tarifnya beragam. Tarif untuk helikopter US$2.800 per jam (sekitar Rp38,6 juta) sekali perjalanan, sedangkan pesawat Grand Caravan US$2.000 dan pesawat Cessna US$1.800 per jam.
"Kebanyakan kalau charter business itu ada minimum hour, minimumnya 2 jam untuk sewa," imbuhnya. Dengan beragam alternatif moda transportasi yang nyaman, yang mana pilihan Anda? Selamat mudik dengan nyaman. (M-4)