Di bulan puasa ini, ada yang harus tetap bekerja dengan perut kosong di siang hari.
Mereka yang mesti mencari sesuap nasi mendapatkan rezeki hari ini hanya untuk makan hari ini saja.
Kalau tidak ada rezeki yang didapat, berarti mereka akan melewati hari dengan perut kosong.
Saya pernah mendengar salah satu hikmah Ramadan ialah supaya kita bisa merasakan nasib mereka yang kelaparan dan berkekurangan, agar bisa berempati kemudian beramal kepada mereka.
Namun, kalau Ramadan berarti sediaan makanan yang berlimpah untuk sahur dan berbuka, apakah saya bisa mendapatkan hikmah itu ya?
Namun, memang tidak mudah bekerja dengan perut kosong.
Badan jadi lemas dan lesu, pikiran macet. Yang ada di otak hanya perut keroncongan, maunya membayangkan enaknya makan ini dan itu.
Karena sedang puasa, jadinya hanya tidur-tiduran.
Apalagi, kabarnya, tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah.
Makanya, saya selalu salut dengan mereka yang tetap bisa berpuasa sambil bekerja keras, menguras tenaga, sambil berpanas-panas di bawah matahari.
Seperti para petani, nelayan, buruh bangunan, kuli angkut, pengojek, pengasong, dan pemulung.
Kalau kemudian malah ketemu dengan orang-orang yang seenaknya makan dan minum, atau merokok, saya kadang jadi marah-marah.
Apalagi kalau penampilan mereka kumal dan terlihat berkekurangan.
Dalam hati saya suka bilang, sudah miskin, eh tidak puasa.
Sudah di dunia tidak dapat apa-apa, di akhirat masuk neraka.
Astaghfirullahaladzim, ini kenapa saya yang sedang puasa malah marah-marah dan membikin dosa begini?
Memangnya saya siapa, bisa menentukan orang-orang yang masuk surga dan neraka segala?
Siapa tahu mereka sudah berhari-hari kelaparan dan baru siang itu mendapatkan rezeki.
Hari ini mereka memang tidak berpuasa, tapi mereka sudah berpuasa sekian hari sebelumnya di bulan ini dan bulan-bulan sebelumya di sepanjang tahun ini, bahkan sepanjang hidup mereka.
Atau bisa saja mereka ialah umat agama lain yang karena kebiasaan dan kebutuhan harus makan di tempat terbuka.
Karena harus kejar setoran, misalnya.
Atau, kalau harus makan sembunyi-sembunyi untuk menghormati kita yang sedang berpuasa, jadi hilang rezeki mereka.
Masak gara-gara butuh dihormati, saya harus mengorbankan kehidupan mereka yang tidak puasa?
Kalau masalahnya saya jadi tergoda untuk juga tidak berpuasa.
Itu artinya iman saya masih labil sekali, bisa digoyahkan hanya dengan melihat orang makan.