Potensi Bencana di Seluruh Jalur Mudik

Richaldo Y Hariandja
30/6/2016 17:38
Potensi Bencana di Seluruh Jalur Mudik
(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

ARUS mudik dan balik Idul Fitri tahun ini harus diwaspadai dari segi kebencanaan. Dengan adanya fenomena La Nina yang menyebabkan intensitas hujan meninggi, semua jalur mudik dan moda transportasi memiliki ancaman bencana yang sama.

Akan tetapi, dari seluruh moda transportasi yang biasa dipakai pemudik, Sepeda Motor memiliki risiko tinggi. Pasalnya, berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama dua tahun terakhir korban kecelakaan selama 16 hari mudik lebaran lebih tinggi ketimbang korban bencana selama satu tahun.

"Sekitar 500 sampai 800 orang meninggal, dan 72% menimpa pengendara motor," ucap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat ditemui dalam Konferensi Pers bertajuk Antisipasi Mudik Lebaran dari Ancaman Banjir, Longsor dan Cuaca Ekstrem, di Jakarta, Kamis (30/6).

Karena itu, dirinya meminta agar pemudik melakukan peningkatan kewaspadaan. BNPB, lanjut Sutopo, sudah melakukan pemetaan silang terhadap daerah rawan bencana, prakiraan cuaca, serta jalur mudik, hasilnya, masing-masing jalur memiliki risiko bencana yang bervariasi.

Di kawasan Pantura Pulau Jawa, potensi banjir rob cukup tinggi, mengingat masih ada siklus alam yang terjadi. Masuk ke jalur tengah dan selatan Jawa, ada potensi longsor dan gelombang tinggi dari laut selatan.

"BMKG sendiri memprediksi kalau H-1 lebaran akan ada curah hujan sedang hingga lebat yang terkonsentrasi di kawasan Barat Sumatera, Jawa, dan Maluku," tambah Sutopo.

Untuk Pulau Sumatera, dikatakan Sutopo potensi longsor tertinggi terdapat di wilayah Bukit Barisan dari Aceh hingga Lampung. Sedangkan Sulawesi, potensi longsor tinggi terdapat di Luwu Utara, Luwu Timur, Toraja Utara dan Enrekang di Sulawesi Selatan, serta Mamuju dan Mamasa di Sulawesi Barat.

Sulawesi sendiri, menurut Sutopo memiliki karakteristik bencana bandang yang merusak. Pasalnya, topografi di pulau tersebut curam, sehingga material yang terbawa saat banjir dapat berupa batuan dan tanah.

"Ini tentu saja berbeda dengan banjir di Pantura yang tidak merusak, hanya permukaan air yang meninggi," imbuh Sutopo. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya