Tanoto Foundation Dukung Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi
MI/Bay
09/7/2015 00:00
(MI/Adam Dwi)
Tanoto Foundation bersama Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI) menggelar diskusi tentang Jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) di Perguruan Tinggi di Jakarta,kemarin. Ketua Pengurus Tanoto Foundation, Sihol Aritonang, menyatakan, untuk mendukung peningkatan mutu perguruan tinggi, Tanoto Foundation mendukung pengembangan software dan hardware. Dukungan software dengan perguruan tinggi mitra meliputi riset, kegiatan ilmiah non riset, dan kolaborasi antar institusi, seperti penelitian Studi Kebijakan Jumlah SKS di Perguruan Tinggi tersebut.
Sedangkan untuk hardware, Tanoto Foundation mendukung pengembangan infrastruktur dan bangunan perguruan tinggi mitra. Lebih lanjut Sihol menjelaskan berdasarkan data,jumlah lulusan SMA yang meneruskan ke perguruan tinggi telah meningkat dari 35.3% pada tahun 2006/2007 menjadi 51.3% pada tahun 2010, namun secara keseluruhan, peringkat perguruan tinggi di Indonesia masih di bawah peringkat perguruan tinggi lainnya di Asia.
Menurut dia,pada tahun 2013 QS Asian University Rankings, Universitas Indonesia menduduki peringkat 64 dan masuk dalam peringkat 100. Sedangkan universitas lainnya berada di luar peringkat tersebut. Sementara itu,Ketua tim peneliti dari LPEM-FEUI Rangga Handika mengemukakan belum ada kejelasan tentang dasar penetapan jumlah minimum SKS di Indonesia.
"Penelitian kami menemukan beban SKS tersebut melebihi beban kerja mahasiswa di kebanyakan perguruan tinggi di dunia,"cetusnya. Lebih lanjut,ia mengingatkan mahasiswa Indonesia dituntut membagi waktunya guna mempelajari beraneka ragam mata kuliah, sedangkan mahasiswa di negara lain memiliki lebih banyak kesempatan memperdalam pemahamannya atas mata kuliah yang jumlahnya relatif terbatas.
Untuk itu, dia menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada Perguruan Tinggi mencakup pengintegrasian mata kuliah yang bersifat tematik, pemetaan mata kuliah untuk mencapai kompetensi mahasiswa, dan menyesuaikan mata kuliah dengan kebutuhan dunia usaha dan profesi. Sedangkan rekomendasi untuk pemerintah adalah mengevaluasi kembali persyaratan jumlah minimum SKS yang bersifat seragam.
Ledi Trialdi Kepala Unit Penjaminana Mutu Akademik FEUI menambahkan pihaknya sedang berupaya agar kewajiban 144 SKS selama menempuh S1 dapat diturunkan. Menurut dia,FEUI mengakali dengan mengintegrasikan mata kuliah yang dapat digabung kompetensi nya."Misalnya mata kuliah tentang kebijakan publik kita gabungkan dengan mata kuliah yang senada dan bersifat tematik,"pungkasnya.