Orangtua Siswa Keluhkan Kualitas Guru Sekolah Internasional

25/6/2016 01:36
Orangtua Siswa Keluhkan Kualitas Guru Sekolah Internasional
(ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA)

PROTES orangtua murid di Sinarmas World Academy (SWA) terus bertambah. Setelah kasus yang dialami Christovita Wiloto (orangtua siswa), kini sejumlah orangtua lainnya mempersoalkan diskriminasi atas anak berkebutuhan khusus dan status kurikulum yang masih tertunda.

"Saya juga mengalami kasus di sekolah itu dan kini sudah proses di KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) dan Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Anak saya berkebutuhan khusus dikeluarkan secara sepihak di tengah semester dengan alasan sekolah sudah tidak ada sumber daya manusia untuk mendidik anak saya," kata Andi Herdianto dalam surat pembaca yang dikirimkan kepada rekan media di Jakarta, belum lama ini.

Anak Andi, Chalix Chow, 15, siswa kelas VIII SWA International School, harus menyudahi aktivitas belajarnya di kelas, setelah dikeluarkan manajemen SWA secara sepihak dari sekolah yang berada di bilangan BSD City, Serpong, Tangerang Selatan, itu.

Chalix Chow merupakan salah satu siswa jenius yang memperoleh IQ 137, tapi sering di-bully teman-temannya di sekolah karena menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Akibat di-bully itu, Chalix Chow jadi marah.
"Kalau alasannya autis, kenapa dulu waktu daftar sekolah diterima, padahal sudah dijelaskan anak saya menderita ADHD," ucap Andi.

Sebelumnya, orangtua murid lainnya Christovita meminta Mendikbud Anies Baswedan turun tangan dalam kisruh pendidikan berlabel internasional di Indonesia tersebut. Sebab, tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan sekolah, sehingga merugikan orangtua dan murid. Salah satunya di SWA, janji guru berkualitas yang tidak terbukti.

"Mendikbud harus tegas atas standar pendidikan dari sekolah-sekolah yang mengklaim sebagai sekolah internasional, tetapi dengan kualitas pendidikan dan guru tidak memadai. Kami minta Mendikbud menindak sekolah ini," kata Christovita.

Terkait dengan pemecatan siswa, pihak SWA melalui Manajer SWA Deddy Djaja Ria menyatakan pihaknya akan menghadapi somasi dari kedua orangtua Chalix Chow. Selain itu, pihak SWA hanya akan membayar uang ganti rugi Chalix Chow sebesar satu semester dan tidak penuh satu tahun.

Mengenai protes yang disampaikan orangtua Christovita Wiloto, pihak SWA menyatakan sampai sejauh ini, pihak SWA tidak main-main menjalankan sistem pendidikan di sekolah tersebut. Bahkan, untuk urusan memilih tenaga pendidik, pihak SWA tidak berani asal ambil seperti disebutkan orangtua murid. Bahkan SWA juga membantah terjadi pemecatan terhadap para guru lain.

"Tidak ada pemecatan atau mengundurkan diri. Waktu itu orangtua murid datang bukan untuk berdemo, melainkan mempertanyakan organisasi sekolah dan itu bentuknya diskusi. Diskusinya juga berlangsung di sekolah dan kami mengambil keputusan cepat untuk menetapkan konsultan sebagai pendampingan untuk proses-proses transisi tenaga yang keluar," ungkap Chairman of the BOD SWA Suhendra Wiriadinata.

SWA berdiri di lahan seluas 51.946 meter persegi di Jalan Pahlawan Seribu, CBD Lot XV, Kelurahan Cilenggang, Serpong, BSD City, Tangerang. Sekolah itu diperkenalkan kepada publik pada 3 November 2007. Sekolah ini menghadirkan kurikulum IB dan menggunakan laptop Apple Macintosh generasi terbaru untuk murid-muridnya. (RO/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya