Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
Keberadaan tesaurus ini menunjukkan kekayaan bahasa Indonesia. Tidak hanya menyajikan sinonim kata, ada pula antonim dan variasi.
APAKAH Anda tahu apa arti menggonyakkan? Bagaimana dengan hinggut? Tidaklah mengherankan bila sebagian besar orang menjawab tidak tahu. Kendati istilah-istilah tersebut sejatinya ada dalam bahasa Indonesia, jarangnya penggunaan kata tersebut dalam keseharian membuat banyak yang tidak tahu.
Jika dibiarkan, kepunahan bahasa bukanlah hal mustahil. Padahal, kepunahan bahasa ialah kepunahan budaya, dengan demikian juga kepunahan peradaban.
Di situlah letak signifikansi adanya tesaurus bahasa Indonesia yang mampu menyuguhkan khasanah kosakata dari berbagai bidang kehidupan atau pengetahuan. Lewat tesaurus, kita bisa menemukan padanan kata. Untuk kata mangkrak saja contohnya, setidaknya ada 17 padanan kata untuk merujuk hal yang sama.
Indonesia cukup beruntung karena kita memiliki seorang Eko Endarmoko. Pria berusia 59 tahun kelahiran Tarempa, Kepulauan Riau, itu ialah sosok yang setia pada kata-kata dan memuliakan bahasa Indonesia.
Sepuluh tahun lalu berkat ketekunannya ‘memulung’ kata-kata sendirian, Tesaurus Bahasa Indonesia terbit. Nah, Eko kembali menerbitkan tesaurus edisi kedua yang telah direvisi, Tesamoko Tesaurus Bahasa Indonesia, Senin (23/5) di Ruang Serbaguna Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta.
Eko Endarmoko dalam sambutannya berharap dapat memberi peluang seluasnya kepada pemakai mendapatkan kata paling cocok yang ia perlukan, bukan saja lewat sejumlah kata bersinonim yang tinggal dipilih, melainkan terutama berkat nuansa makna sehalus-halusnya yang coba ia rekam. “Di titik inilah saya kira perlunya kamus dipakai sebagai pendamping Tesamoko sebab Tesamoko, seperti tesaurus lain pada galibnya, tidak memberi takrif, definisi,” ujar Eko. Acara peluncuran Tesamoko Tesaurus Bahasa Indonesia juga dimeriahkan pembacaan puisi oleh Sapardi Djoko Damono.
Berbeda dengan yang pertama, tesaurus tersebut dinamai Tesamoko, menjadikannya amat melekat dengan sosok Eko Endarmoko pelopor tesaurus bahasa Indonesia. Tidak hanya menyajikan sinonim kata, ada pula antonim dan variasi. Ketiganya membantu memahami kata dalam konteks makna dan penggunaannya.
Di sisi lain, kali ini dia tidak bekerja sendirian, tetapi dengan Gerombolan Tesamoko yang berisi belasan orang. Dalam kerja kolaboratif itu, mereka memanfaatkan aplikasi berbasis komputer yang menghubungkan tim revisi yang saat penyusunannya berada di kota bahkan negara berbeda.
Kritis berbahasa
Seno Gumira Ajidarma, sastrawan yang hadir sebagai salah satu pembicara dalam bincang bahasa saat peluncuran Tesamoko, menekankan pentingnya kritis berbahasa. Sekalipun kehadiran Tesamoko diakuinya amat membantu dan bermanfaat, baginya bahasa hanyalah media, sedangkan pemaknaannya sangat dipengaruhi sudut pandang.
Tesamoko sekalipun berupa tesaurus bahasa Indonesia, sesungguhnya mengandung sudut pandang seorang Eko. Seno mengambil kata mengamankan sebagai contoh. Kalau di Kamus Besar Bahasa Indonesia, maknanya berkonotasi baik, bertujuan membuat aman. Namun, di Tesamoko, ada opsi padanannya berupa membekuk, menangkap, mencekal, menciduk, mencokok, menggelandang, menyergap, meringkus, dan seterusnya yang berkonotasi negatif bahkan menimbulkan rasa ngeri. “Ini sudah ideologis masuknya,” simpul Seno.
Dalam kesempatan yang sama, pendidik dan aktivis perempuan Neng Dara Affifah mengkritik hadirnya kata menggagahi sebagai padanan kata memerkosa dalam Tesamoko. Baginya, pemerkosaan bukanlah tindakan yang gagah dan karena itu, istilah menggagahi sejatinya bias gender.
Dalam merespons sorotan soal bias gender itu, sastrawan Goenawan Mohamad menilai hasil kerja Eko itu memang subjektif, tetapi sudah menghadirkan fungsi tesaurus yang mendasar, yakni sebagai dokumentasi percakapan kita sehari-hari.
“Tesaurus mendokumentasikan perubahan dan transisi bahasa,” cetusnya. Ia menambahkan, bukan mustahil kelak ada kata yang maknanya berubah.
“Kata tidak punya makna yang tetap, selalu kontekstual,” lanjutnya. Karena itu, penggunaan tesaurus ataupun kamus selayaknya hanya sebagai tempat transit menuju penjelajahan kata, bukan tujuan akhir.
Terlepas dengan segala subjektivitas dan kekurangannya, Tesamoko ini layak menjadi teman dalam keseharian kita. Saatnya memuliakan bahasa, pantang memiskinkan bahasa dan membuat kata-kata hilang terlupakan. (M-2)
miweekend@mediaindonesia.com
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved