Pantang Memiskinkan Bahasa

Hera Khaerani
26/6/2016 04:05
Pantang Memiskinkan Bahasa
(MI/Reza Pratmoko)

Keberadaan tesaurus ini menunjukkan kekayaan bahasa Indonesia. Tidak hanya menyajikan sinonim kata, ada pula antonim dan variasi.

APAKAH Anda tahu apa arti menggonyakkan? Bagaimana dengan hinggut? Tidaklah mengherankan bila sebagian besar orang menjawab tidak tahu. Kendati istilah-istilah tersebut sejatinya ada dalam bahasa Indonesia, jarangnya penggunaan kata tersebut dalam keseharian membuat banyak yang tidak tahu.

Jika dibiarkan, kepunahan bahasa bukanlah hal mustahil. Padahal, kepunahan bahasa ialah kepunahan budaya, dengan demikian juga ke­punahan peradaban.

Di situlah letak signifikansi adanya tesaurus bahasa Indonesia yang mampu menyuguhkan khasanah kosakata dari berbagai bidang kehidupan atau pengetahuan. Lewat tesaurus, kita bisa menemukan padanan kata. Untuk kata mangkrak saja contohnya, setidaknya ada 17 pa­danan kata untuk merujuk hal yang sama.

Indonesia cukup beruntung karena kita memiliki seorang Eko Endarmoko. Pria berusia 59 tahun kelahiran Tarempa, Kepulauan Riau, itu ialah so­sok yang setia pada kata-kata dan memuliakan ba­hasa Indonesia.

Sepuluh tahun lalu berkat ketekunannya ‘memulung’ kata-kata sendirian, Tesaurus Bahasa Indonesia terbit. Nah, Eko kembali me­nerbitkan tesaurus edisi kedua yang telah direvisi, Tesamoko Tesaurus Bahasa Indonesia, Senin (23/5) di Ruang Serbaguna Kom­pas Gramedia, Palmerah, Jakarta.

Eko Endarmoko dalam sam­butannya ber­harap dapat memberi peluang seluasnya kepada pemakai mendapatkan kata paling cocok yang ia perlukan, bukan saja le­wat sejumlah kata bersinonim yang tinggal dipilih, melainkan terutama berkat nuansa makna se­halus-halusnya yang coba ia rekam. “Di titik inilah saya kira perlunya ka­mus dipakai sebagai pen­damping Tesamoko sebab Tesamoko, seperti tesaurus lain pada ga­libnya, tidak memberi takrif, definisi,” ujar Eko. Acara peluncuran Tesamoko Tesaurus Bahasa Indonesia ju­ga dimeriahkan pembacaan puisi oleh Sapardi Djoko Damono.

Berbeda dengan yang per­tama, tesaurus ter­sebut dinamai Tesamoko, menjadikannya amat me­lekat dengan sosok Eko Endar­moko pelopor te­saurus bahasa Indonesia. Tidak hanya menyajikan sinonim kata, ada pula antonim dan variasi. Ketiganya membantu mema­hami kata dalam konteks makna dan penggunaannya.

Di sisi lain, kali ini dia tidak bekerja sendirian, tetapi dengan Gerombolan Tesamoko yang berisi belasan orang. Dalam kerja kolaboratif itu, mereka memanfaatkan aplikasi berbasis komputer yang menghubungkan tim revisi yang saat penyusunannya berada di kota bahkan negara berbeda.

Kritis berbahasa

Seno Gumira Ajidar­ma, sastrawan yang ha­dir sebagai salah satu pembicara dalam bincang bahasa saat peluncuran Tesamoko, menekankan pentingnya kritis berbahasa. Sekalipun kehadiran Tesamoko diakuinya amat membantu dan bermanfaat, baginya bahasa hanyalah me­dia, sedangkan pemaknaannya sangat dipengaruhi sudut pandang.

Tesamoko sekalipun berupa tesaurus bahasa Indonesia, sesungguhnya mengandung sudut pandang seorang Eko. Seno mengambil kata mengamankan sebagai contoh. Kalau di Kamus Besar Bahasa Indonesia, maknanya berkonotasi baik, bertujuan membuat aman. Namun, di Te­samoko, ada opsi padanannya berupa membe­kuk, menangkap, mencekal, menciduk, mencokok, menggelandang, menyer­gap, me­ringkus, dan seterusnya yang berkonotasi negatif bahkan menimbulkan rasa ngeri. “Ini sudah ideologis masuknya,” simpul Seno.

Dalam kesempatan yang sama, pen­didik dan aktivis perempuan Neng Dara Affi­fah mengkritik ha­dirnya kata menggagahi sebagai padanan kata memerkosa dalam Tesamoko. Baginya, pemerkosa­an bukanlah tindakan yang ga­gah dan karena itu, istilah meng­gagahi sejatinya bias gender.

Dalam merespons sorot­an soal bias gender itu, sastrawan Goenawan Moha­mad menilai hasil kerja Eko itu memang subjektif, tetapi sudah menghadirkan fungsi tesaurus yang mendasar, yak­ni sebagai dokumentasi percakapan kita sehari-hari.

“Tesaurus mendokumentasikan perubah­an dan transisi bahasa,” cetusnya. Ia menambahkan, bukan mustahil kelak ada kata yang maknanya berubah.

“Kata tidak punya makna yang tetap, se­lalu kontekstual,” lanjutnya. Karena itu, penggunaan tesaurus ataupun kamus se­layaknya hanya sebagai tempat transit menuju penjelajahan kata, bukan tujuan akhir.

Terlepas dengan segala subjektivitas dan ke­kurangannya, Tesamoko ini layak menjadi te­man dalam keseharian kita. Saatnya memuliakan bahasa, pantang memiskinkan bahasa dan membuat kata-kata hilang terlupakan. (M-2)

miweekend@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya