Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar Bangsa

Abdillah M Marzuqi/M-2
26/6/2016 03:20
Bekerja dengan Tiga Tokoh Besar Bangsa
()

BUKU ini menceritakan perjalanan hidup Wardiman Djojonegoro. Dia merasa bersyukur dapat bekerja dengan tiga tokoh Indonesia yang membuat sejarah, di antaranya Ali Sa­dikin semasa men­jabat Gubernur DKI, BJ Habibie ketika menjadi Menteri Riset dan Teknologi, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan di zaman Pak Harto sebagai Menteri Kabinet VI bidang Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada buku ini terungkap sejumlah inside story terkait sejumlah nama dan peristiwa yang mewarnai buku ini. Misalnya, sudah diketahui umum bahwa Ali Sadikin dan Soeharto berpisah jalan dan berseteru secara politik. Namun, pada usia senja, suatu hari Pak Harto minta bertemu de­ngan Bang Ali (2007). Semula petugas keamanan di rumah Ali Sadikin meng­anggap itu hanya guyon. Ter­nyata permintaan itu benar adanya.

Buku berjudul Sepanjang Jalan Kenangan; Bekerja Dengan Tiga Tokoh Besar Bangsa ini ditulis Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro.

Buku setebal 630 halaman ini me­nampilkan berbagai kisah kehidupan Wardiman. Mulai masa kecil, ketika bersekolah di Jerman, yang ketika itu tinggal sekamar dengan Habibie, menjadi staf Ali Sadikin pada saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, membantu Habibie yang ketika itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi, menangani proyek pengembangan teknologi dan penelitian energi, serta menangani kebijakan pendidikan pada saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Link and match

Salah satu warisan dari penulis yang juga termaktub dalam buku ialah konsep pendidikan link and match atau keterkaitan dan kesepadanan. Konsep ini diterapkan saat penulis masih menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1993­1998.

Konsep itu memuat pengembangan pelatihan dan pendidikan peserta didik harus disesuaikan dengan pembangunan negara dan kebutuhan industri.

Konsep pendidikan tersebut ditemukan penulis pada Mei 1993 atau sekitar tiga bu­lan setelah menjabat sebagai Men­dikbud.

Dalam buku itu, link and match ialah adanya keterkaitan dan ke­sepadanan dengan kebutuhan dan permintaan (needs, demands).

Link berarti pro­ses pendidikan yang selayaknya sesuai dengan kebutuhan pembangunan sehing­ga hasilnya pun cocok (match) dengan kebutuhan tersebut.

Kebijakan ini dikembangkan untuk me­ningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan tenaga profesional dan terampil, bukan hanya untuk melayani ke­perluan industri, melainkan juga bidang lain.

Masih saat penulis menjabat sebagai Mendikbud, ia juga sempat mengubah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi universitas. Bab 46 berjudul Memperluas IKIP Menjadi Universitas (hal 321). Pertimbang­annya ialah ingin meningkatkan kua­litas SDM.

Saat itu penulis beranggapan bah­wa kualitas sumber daya manusia ditentukan pendidikan dan keterampilan, sedangkan pokok pendidikan gu­ru dihasilkan IKIP. Oleh karena itu, penulis berpendapat agar IKIP digabungkan dengan cabang ilmu lain agar ada ‘darah baru’. Dengan demikian, formatnya pun berubah, dari institut yang hanya satu fakultas menjadi universitas dengan minimal lima fakultas.

Ide itu pun mendapat banyak tantangan, karena dianggap mengkredilkan IKIP dan menghentikan produksi guru. (Abdillah M Marzuqi/M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya