Melihat Harta Nusantara Indonesia dalam Tempo 90 menit

Fetry Wuryasti
25/6/2016 16:55
Melihat Harta Nusantara Indonesia dalam Tempo 90 menit
(ANTARA)

TIDAK banyak wisatawan yang mengetahui apa saja kekayaan seni budaya Indonesia bila hanya mengunjungi satu wilayah destinasi. Namun, melalui pertunjukkan seni budaya di Devdan Bali Nusa Dua Theatre, komplek BTDC Nusa Dua yang mengusung tema keragaman budaya Nusantara, baik wisatawan lokal dan mancanegara bisa mengetahui harta nusantara Indonesia.

Kata “Devdan” berasal dari bahasa Sanskerta “Deva” dan “Dhana”, yang berarti “Anugerah Tuhan”. Kekayaan Indonesia merupakan Anugerah dari Tuhan untuk penduduk Indonesia.

Cerita dimulai dengan munculnya sepasang anak, yang merupakan bagian dari grup wisatawan. Mereka bosan dengan jadwal tur mereka, kemudian memisahkan diri dari grup, untuk memanjat sebuah tebing yang menarik perhatian mereka.

Mereka menemukan sebuah peti berisi berbagai benda unik, yang langsung membawa mereka ke dalam perjalanan seni budaya dan melihat kekayaan Indonesia, baik dari alam, hasil bumi, tarian, dan benda karya seni.

Perpaduan desain panggung lengkap dengan kolam dan semburat api, visual effect khusus sound system, penataan cahaya lampu, properti panggung yang tampak nyata, serta penampilan penari kostum dari berbagai pakaian tradisional dikemas dengan mempesona.

Penonton dapat melihat Indonesia mulai dari tari Aceh, Sumatera Barat, Jawa, Bali, Kalimantan, sampai Papua dengan kolaborasi tampilan kontemporer modern selama 90 menit.

Gemulai akrobatik di udara juga sempat membius perhatian penonton. Beberapa dari mereka pun sempat diajak menari tarian tradisional Dayak dan bersapa dengan para monyet, serta orang utan yang menjadi kekayaan dari satwa Indonesia.

Devdan memang sengaja menampilkan dan memadukan beberapa tarian tradisional dari belahan Nusantara, agar kelestarian budaya dan seni dari negeri sendiri bisa diakomodasi dan terus dijaga kelestariannya. Sehingga tidak diklaim oleh bangsa lain.

Pertunjukan ini rupanya digelar hanya 4 kali dalam seminggu, yaitu pada Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu. Efek khusus, teknologi yang digunakan serta gedung berkapasitas 700 orang penonton, memerlukan biaya mulai dari Rp300 ribu-1 juta bagi wisatawan nusantara dan USD$ 55-120 bagi wisatawan mancanegara, untuk menikmati pertujukkan ini.

Meski terkesan spektakuler dan selama pertunjukan membuat penonton berdecak kagum, biaya perlu dikeluarkan menurut Otsu, salah satu penulis lepas media dari Jepang, relatif mahal bagi para wisatawan mancanegara.

"Bila harus menonton kembali, apa mereka (wisatawan asing) akan mau membayar dengan harga itu? Kami di Jepang tetap memberi harga murah untuk atraksi wisata orang asing, tapi mengapa di sini mahal buat kami?" tanyanya dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya