Memberi Bukti Patahkan Mitos

Eni Kartinah
08/7/2015 00:00
Memberi Bukti Patahkan Mitos
(Grafis Seno)
SEMUA anak berhak hidup bahagia. Mereka idealnya menjalani masa kecil dengan penuh keceriaan. Namun, ada kalanya karena suatu sebab, mereka harus menjalani hari-hari nan sendu.

Seperti yang sempat dialami Alvita Dewi Siswoyo. Ketika usianya baru setahun, ia harus bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit. Penyakit yang dideritanya tak 'main-main'. Ia terserang retinoblastoma (kanker retina). Hal itu membuat mata kirinya buta meski ia lolos dari penyakit ganas itu.

"Pernah waktu SD, saya diejek teman-teman, dibilang cacat. Waktu itu saya pulang sambil menangis," tuturnya.

Setelah diberi pengertian oleh orangtuanya, Vita sedikit demi sedikit pulih dari kesedihan. Namun, belum 100% ia bebas dari rasa minder. Di usia 13 tahun Vita kembali terkena kanker. Kali ini, keganasan tersebut menyerang kaki kirinya.

"Saya sempat sedih luar biasa, sampai ingin mati saja. Tapi kemudian saya sadar dengan kanker kedua ini saya bisa lebih dekat dengan Tuhan. Tuhan menyelamatkan saya dua kali dari kanker, saya percaya ada maksud di balik ini. Ini membuat saya sadar bahwa hidup bukan sekadar menjalani hari-hari, melainkan juga harus berarti. Kemudian, saya punya semangat untuk sembuh."

Dengan dukungan orang-orang di sekitarnya, Vita tak hanya mampu lolos dari kanker, tapi juga mampu meraih cita-citanya menjadi seorang dokter. Ia yang kini berusia 32 tahun menyandang gelar spesialis kedokteran nuklir.

Kisah serupa juga dialami Nimas Mita Etika, 21. Saat berusia 12 tahun ia diserang kanker tulang stadium 2B akhir. Proses pengobatan yang panjang pernah membuatnya berhenti dari sekolah selama setahun. Ketika kembali ke bangku sekolah, ia juga sempat minder.

"Waktu itu aku botak, pakai kursi roda. Ketika orang-orang tahu kalau aku kanker, mereka takut ketularan," kisahnya.

Namun, pada akhirnya, 'kekurangan-kekurangan' itu justru melecut semangat Nimas. Ia terdorong untuk membuktikan bahwa meski sakit ia mampu berprestasi.

Tekad kuat yang diiringi perjuangan itu pun membuahkan hasil. Semasa sekolah Nimas menjadi langganan juara kelas. Kini, ia aktif kuliah di Jurusan Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Vita dan Nimas menuturkan pengalaman mereka itu di acara bertajuk Survivor Speak Up: Childhood Cancer Myths yang diselenggarakan Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) di Jakarta, Sabtu (27/6). Bersama belasan penyintas kanker anak yang tergabung dalam Cancer Buster Community, mereka menjadikan kegiatan itu sebagai bagian dari upaya mematahkan mitos-mitos terkait dengan kanker anak.

Tidak menular
Pada kesempatan itu, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Marurul Aisyi, mengungkapkan mitos-mitos terkait dengan kanker anak memang masih melingkupi masyarakat. Anggapan-anggapan keliru itu jelas perlu diluruskan.

"Mitos pertama, anak yang mende­rita kanker dianggap akan menularkan penyakitnya. Mereka menjadi ancaman bagi orang-orang di sekitarnya. Nyatanya, lembaga kanker anak internasional Childhood Cancer International menyebutkan kanker bukanlah penyakit menular," ujar Aisyi.

Mitos lainnya yaitu orang yang pernah menderita kanker tidak dapat memiliki keturunan. "Hal ini jelas tidak benar, pengidap atau penyintas kanker dapat memiliki keturunan jika kankernya sama sekali tidak berhubungan dengan organ reproduksi," tegas Aisyi.

Selanjutnya, mitos menyebut penyin­tas kanker berumur pendek. Padahal, meski mereka berisiko tinggi terhadap efek samping pengobatan dan serangan ulang kanker, usia harapan hidup mereka tidak menjadi rendah.

Mitos berikutnya, penderita kanker anak pada umumnya berprestasi rendah di sekolah dan dalam pekerjaan. Anggota Cancer Buster Community dengan tegas mematahkan mitos itu. Vita dan Nimas hanyalah sebagian kecil dari banyak penyintas kanker anak yang sukses di sekolah ataupun pekerjaan.

Ada pula mitos yang menyebut penyintas kanker anak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan pada umumnya tidak memiliki kemampuan menjalin hubungan baik dengan orang lain.

"Padahal, kemampuan komunikasi interpersonal sama sekali tidak berhubungan dengan kanker yang pernah dialami. Kemampuan komunikasi interpersonal pada dasarnya bisa dipelajari dan di YOAI ini anak-anak juga diajarkan mengembangkan kemampuan komunikasi interpersonal," jelas psikolog Ninuk Wisdyantoro yang juga hadir di acara itu.

Mitos lain menyebut penderita kanker anak akan menghadapi masa depan yang sengsara, sedih, dan tidak bahagia. Mereka akan senantiasa didiskriminasi dan diremehkan dalam hal pernikahan, pekerjaan, dan lingkungan sosial.

Hal itu dibantah Bomol, 30, yang juga penyintas kanker. "Saya wartawan aktif salah satu tabloid otomotif. Pemimpin redaksi saya mengetahui saya penyintas kanker dan selama ini tidak pernah mempermasalahkan. Istri dan mertua saya pun menerima saya dengan kanker yang pernah saya alami saat umur enam tahun."

Pada kesempatan itu, dokter Aisyi juga mengingatkan kanker pada anak lebih berpeluang untuk disembuhkan daripada kanker pada orang dewasa. Diyakini, hal itu disebabkan kekacauan sel pada kasus kanker anak tidak separah kanker pada orang dewasa.

"Yang terpenting, kenali gejalanya dan periksakan segera saat curiga anak terkena kanker," pesan dokter Aisyi. (*/H-3)

eni@mediaindonesia.com





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya