SAYA tidak suka selfie. Bukan Selfie Sukaesih, plesetan dari Elvy Sukaesih, ratu dangdut zaman dulu. Bukan juga Selvi Ananda menantu Pak Jokowi.
Ini selfie yang berfoto diri itu, lho. Selain wajah saya pas-pasan, saya bukan orang yang suka bergaya. Kalau bergaya selfie, yang artinya memonyong-monyongkan bibir itu, bukannya jadi 'unyu' alias lucu, wajah saya bisa jadi jatuh jauh di bawah skala pas-pasan.
Kalau wajah saya bertambah jelek karena selfie, berarti saya sudah menyalahi kaidah-kaidah per-selfie-an, dong.
Selfie itu bagian dari naluri purba untuk mengagumi diri sendiri, seperti telaah ilmiah atas kisah 'Narcissus'. Zaman dulu, ada seorang tampan yang sedemikian rupa mengagumi diri sendiri sampai sedemikian sombong dan menolak mencintai selain dirinya. Setiap hari, ia hanya becermin di danau yang bening sampai lupa diri dan mengejar bayangannya sendiri ke dalam danau. Narcisus akhirnya mati tenggelam sampai kemudian tumbuh satu jenis bunga di tepi danau itu yang dipercaya sebagai perwujudan dari tokoh malang ini. Bunga itu kemudian diberi nama bunga narsis alias narcissus.
Sekarang, orang tidak perlu pergi ke danau untuk menjadi Narcissus. Cukup pakai telepon genggam untuk bergaya narsis. Luar biasa sekali teknologi yang dikembangkan untuk menyalurkan hasrat mengagumi diri sendiri ini. Wajah yang pas-pasan juga bisa dipermak agar menjadi ciamik. Zaman dulu bisa pakai Photoshop, program komputer paling populer yang memunculkan fenomena wajah Photoshop. Kalau sekarang, cukup dari genggaman tangan, yakni dengan Camera 360. Fasilitas-fasilitas di media sosial juga luar biasa, banyak jenis pengolahan gambar instan yang bisa membikin wajah menjadi halus dan mulus, yang sedemikian menipu sampai membikin si empu wajah tidak mengenali wajah sendiri.
Sebenarnya buat apa selfie dan segala rupa teknologi ini? Kalau saya, mah, apa adanya saja. Mencintai diri sendiri itu boleh, bahkan wajib. Anugerah Allah memang harus disyukuri, tapi jangan juga sampai bikin lupa diri. Memperindah penampilan juga boleh, tapi jangan juga dibikin macam-macam, apalagi kalau digunakan untuk menipu orang lain atau diri sendiri. Itu mah dosa. Ingat, semua yang ada pada kita ini hanya titipan Allah, termasuk wajah kita, apa pun adanya.
Ah, coba saja ada teknologi untuk mengubah watak dan perilaku buruk, memperbaiki hati, akhlak, dan iman. Eh itu mah sudah ada ya. Namanya Alquran dan Alhadis.