Ramadan Bulan Kemerdekaan

Syarief Oebaidillah
06/7/2015 00:00
Ramadan Bulan Kemerdekaan
(Ustaz Bachtiar Nasir --MI/Adam Dwi)
SEJARAH Kemerdekaan Indonesia tidak terpisah dengan bulan Ramadan. Alasannya ialah proklamasi Indonesia berlangsung pada bulan suci. Sejarah itu pun tercatat di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Di Istiqlal, terdapat simbol kemenangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bulan Ramadan ini mengingatkan kita terhadap sejarah bangsa Indonesia meraih kemerdekaan. Di sinilah peradaban dan kedaulatan bangsa dimulai, ditata, dan dibangun, kata Direktur Arrahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center Ustaz Bachtiar Nasir saat ceramah Syiar Nuzulul Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (4/7).

Bachtiar mengingatkan kepada umara atau para pejabat negara agar tetap berdaulat dalam pikiran sehingga bangsa Indonesia mampu berdaulat dalam pemerintahan, ekonomi, militer, sosial, dan segala aspek kehidupan.

Bagaimana caranya? Menurut dia, caranya ialah mengimplementasikan ajaran-ajaran Alquran. Hemat dia, Indonesia ada karena para pendiri bangsa ini berkeyakinan bahwa semua itu diraih berkat dan rahmat Allah sebagaimana dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD).

Kedaulatan bangsa bukan karena turunnya mata uang dolar sebagai indikator utama perekonomian, bukan pula karena bantuan negara-negara asing, tegas pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu.

Menurutnya, bangsa Indonesia saat ini terus dihantui keterpurukan ekonomi akibat anjloknya nilai rupiah terhadap dolar.

Menurutnya, jika dipandang dari sisi keagamaan, hal itu seharusnya tidak menjadi persoalan.

Jika para pemimpin bangsa ini berkeyakinan hanya kepada Allah, mereka akan menyampaikan bahwa kedaulatan RI dari segala sisi akan menjadi milik bangsa. Artinya, Indonesia tidak boleh bergantung pada bangsa atau pihak lain.

Peringatan
Terkait dengan peringatan Nuzulul Quran, Bachtiar mengutarakan, yang menarik soal ayat-ayat yang diturunkan Allah SWT pada masa itu bukan tentang politik, bukan pula ayat-ayat ekonomi.

Justru Allah SWT mewahyukan kepada Rasulnya adalah ayat iqro, yaitu perintah membaca yang mencerminkan perintah menuntut ilmu, membaca fenomena sosial politik kemasyarakatan, katanya.

Ia menjelaskan, Alquran mengajarkan sesuatu yang tidak diketahui menjadi tahu.

Seperti kenapa ada lahir dan mati? Semuanya telah diajarkan dalam Alquran, paparnya.

Karena itu, ia meyakinkan bahwa kemajuan suatu negara atau bangsa bergantung pada penguasaan ilmu. Karena itu, ia berharap pemerintah terus mendorong kemajuan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan bangsa.

Ia pun mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang sangat bergantung pada amal ibadah dan keimanan.

Bachtiar mengutip Surah An Nahl ayat 97 yang artinya, Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Jadi, jelasnya, orang yang mengerjakan amal saleh harus dalam keadaan beriman. Dengan demikian, mereka akan diberikan kehidupan rezeki yang halal.

Ia menambahkan, surah Al-A’raf ayat 96 menyebutkan bahwa Allah akan memberi berkah kepada negeri dengan pemimpin dan penduduk yang mau beriman dan bertakwa.

Jadi kita enggak usah pusing dengan dolar yang naik-turun. Karena kedaulatan di negeri ini terjadi kalau penduduknya beriman dan bertakwa. Sebaliknya, jika membangun negara dengan utang, sama saja dengan membangun kebohongan. Kalau kita mendustakan agama, yakinlah negara kita tidak akan berdaulat, pungkasnya. (H-1)

oebay@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya